Nasional

BP BUMN: ESG Bukan Sekadar Strategi Bisnis tapi Bagian dari Ketahanan Nasional

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN Tedi Bharata menilai penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) tidak hanya penting bagi keberlanjutan korporasi, tetapi juga menjadi bagian dari ketahanan...

20 Oktober 2026, pukul 11:31 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN Tedi Bharata menilai penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) tidak hanya penting bagi keberlanjutan korporasi, tetapi juga menjadi bagian dari ketahanan nasional Indonesia. Tedi menyampaikan sustainability perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas sebagai bagian dari Business Continuity Plan (BCP) bangsa.

“ESG adalah BCP dari bangsa ini karena BUMN ini adalah bagian dari korporasinya, BCP itu adalah hal yang sangat penting sekali bagaimana suatu korporasi bisa terus berjalan ketika terjadi disruption,” ujar Tedi dalam acara ESG Now Leadership Forum and Awards 2026 yang diselenggarakan Republika di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Baca Juga

Tedi mengatakan BCP selama ini dikenal sebagai instrumen untuk memastikan korporasi tetap berjalan ketika menghadapi disrupsi. Namun, konsep tersebut juga relevan diterapkan dalam konteks kehidupan berbangsa.

Tedi menilai Indonesia juga harus memastikan proses bisnis dan kegiatan ekonomi tetap berjalan ketika menghadapi berbagai disrupsi. Salah satu contoh yang disebutnya adalah dinamika geopolitik di Selat Hormuz yang dapat berdampak terhadap pasokan minyak dan kemudian memengaruhi perekonomian.

“Bagaimana negara ini bisa terus sustain, bisa terus melakukan bisnis prosesnya kalau terjadi disrupsi dan saya sampaikan pada siang hari ini adalah sustainability, ESG adalah bagian penting dari BCP dari bangsa Indonesia,” ucap Tedi.

Wakil Kepala II BP BUMN Tedi Bharata dalam sesi Monolog Leaders Forum ESG Now Movement 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (19/10/2026). - (Thoudy Badai/Republika)

Menurut Tedi, kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya membangun ketahanan energi dengan memanfaatkan potensi SDA dalam negeri. Dia menyebut Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah sehingga perlu dioptimalkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

Ia mencontohkan pengembangan kelapa sawit menjadi biofuel dan biodiesel, serta pemanfaatan jagung, tebu, dan singkong sebagai bahan baku energi. Komoditas tersebut, lanjut Tedi, dapat menjadi fondasi bagi penguatan ketahanan energi nasional.

“Yang tadinya kita harus mengimpor energi ke depan kita cukup menanam energi sejak kapan ada singkong, jagung, tebu, sudah dari zaman dulu tapi baru sekarang kita mulai memberikan perhatian lebih bahwa apa yang kita miliki ini menjadi benteng bagi ketahanan energi nasional,” ungkap Tedi.

Namun, Tedi mengingatkan perubahan dari ketergantungan impor menuju penguatan sumber daya domestik membutuhkan proses dan pembangunan ekosistem. Pemerintah dan BUMN, kata Tedi, membutuhkan waktu untuk memperbesar produksi komoditas yang sebelumnya belum menjadi perhatian utama dalam rantai pasok energi.

“Ketika menjalankan hal suatu yang baru nih di mana kita terbiasa mengimpor, kita terbiasa mendapatkan barang jadi sekarang tiba-tiba kita diubah, kita harus membangun ekosistem jagungnya harus diperbanyak, singkongnya harus diperbanyak karena sebelumnya bukan menjadi perhatian utama dan itu bukan hal yang mudah,” lanjut Tedi.

Oleh karena itu, Tedi mengajak seluruh pihak memberikan kesempatan kepada pemerintah dan BUMN untuk menjalankan transformasi tersebut. Ia menyebut banyak BUMN terlibat dalam supply chain atau rantai pasok dari program penguatan ketahanan energi sehingga kolaborasi menjadi faktor penting.

Tedi kemudian menyoroti perubahan perspektif generasi muda terhadap isu sustainability. Berdasarkan pengalamannya ketika sebelumnya menangani bidang SDM BUMN, ia melihat semakin banyak calon talenta yang mempertimbangkan komitmen ESG perusahaan sebelum menentukan tempat bekerja.

Tedi menceritakan pengalaman ketika BUMN melakukan rekrutmen, termasuk menjangkau penerima beasiswa LPDP yang menempuh pendidikan di luar negeri. Dalam proses wawancara, para kandidat diberikan kesempatan mengajukan pertanyaan mengenai perusahaan.

“Adik-adik itu nanyanya apa? itu sudah mulai nih, banyak yang nanya, apa program sustainability perusahaan? apa ESG effort-nya apa?” ucap Tedi.

Menurut Tedi, perhatian tersebut menunjukkan isu sustainability telah menjadi bagian dari pola pikir generasi muda. Bahkan, kandidat dari berbagai bidang pendidikan mulai mengenal sustainability dan green accounting.

“Artinya apa? perusahaan ini harus menempatkan sustainability sebagai bagian penting dari strategi bisnis,” sambung dia.

Tedi menilai perusahaan yang tidak memiliki komitmen terhadap sustainability akan semakin sulit menarik talenta terbaik. Sebaliknya, perusahaan yang mampu menjadikan ESG bagian dari strategi bisnis akan memiliki daya tarik lebih besar bagi generasi muda.

Selain aspek lingkungan, Tedi menekankan pentingnya memasukkan unsur hak asasi manusia (HAM) dalam implementasi ESG. Ia mengapresiasi pembahasan dalam forum yang mengaitkan ESG dengan HAM dan menilai komponen tersebut perlu menjadi perhatian perusahaan, termasuk BUMN.

Tedi mengajak sektor swasta, BUMN, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong sustainability. Tedi optimistis penerapan sustainability secara bersama-sama dapat memperkuat ketahanan nasional Indonesia.

“InsyaAllah kalau itu dilakukan ketahanan nasional bagi Indonesia tentunya bersama-sama dengan pemerintah ini akan dapat menjadi kenyataan sehingga tadi kemandirian bahasa, ketahanan energi, ketahanan ekonomi dari Indonesia akan dapat berlaksana,” kata Tedi.

Lihat di situs asli

Berita terkait