REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan sejumlah perguruan tinggi baru-baru mengungkap kekayaan nutrisi ikan sidat. Di sisi lain, pabrik jamu di pelosok Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, sudah lebih dahulu melihat potensinya.
Hampir satu dekade lalu, ikan yang disebut memiliki kandungan omega-3 lebih tinggi daripada salmon itu sudah dipilih sebagai bahan baku produk madu anak bernama Gizidat. Menariknya, keputusan tersebut bukan bermula dari penelitian laboratorium yang rumit. Justru sebuah cerita turun-temurun tentang ikan yang membuat Tatang Mulyadi, pendiri CV Bumi Wijaya, penasaran.
Baca Juga- Kepala BRIN Klaim Vape 100 Persen Picu Diabetes dan 92 Jenis Penyakit Paru
- Mahasiswa Sains Data UNM Raih Prestasi di BRINATHON 2026
- DPD RI Gandeng BRIN dan ICMI, Siapkan Regulasi AI hingga Perubahan Iklim
Alih-alih mempercayai mitos yang berkembang di desanya, Tatang memilih mencari tahu kandungan nutrisi ikan yang menyerupai belut tersebut. Penelusurannya kemudian mengantarkan sidat menjadi salah satu bahan dalam formulasi Gizidat, bersama madu hutan dan temulawak atau curcuma.
APJ Bumi Wijaya, Muji Widodo, mengatakan sidat dipilih karena komposisi nutrisinya tidak berhenti pada protein dan lemak. "Yang paling utama ada tiga kandungan di ikan sidat, yaitu protein, lemak, dan mikronutrien," kata Muji dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Menurut Muji, keberadaan mikronutrien menjadi salah satu kelebihan yang dipertimbangkan dalam pemilihan bahan baku. "Mikronutrien ini termasuk vitamin dan lain-lain, seperti vitamin A dan vitamin D," ujarnya.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika