DENPASAR — Aroma kopi yang diracik barista, bunyi mesin espresso, hingga hangatnya secangkir kopi menjadi bagian dari perjalanan Difel Café dalam membangun kemandirian ekonomi penyandang disabilitas. Berawal dari pelatihan barista yang didukung Pertamina, usaha kopi inklusif ini berkembang menjadi ruang pemberdayaan bagi 15 anggota difabel untuk mengasah keterampilan, melayani pelanggan, dan memperoleh penghasilan dari usaha yang mereka jalankan bersama. *Manfaat pemberdayaan tersebut semakin meluas melalui integrasi dengan 7 anggota Skizopreneur dari Rumah Berdaya, sehingga secara keseluruhan melibatkan 22 anggota dalam ekosistem kewirausahaan sosial yang inklusif.
Bagi Nyoman Juniarta, yang akrab disapa Jigo, kopi bukan sekadar minuman. Di balik setiap racikan, ada kesempatan untuk membuktikan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan untuk berkarya dan berdaya secara ekonomi. Melalui Difel Café, Jigo ingin mengubah pandangan masyarakat yang selama ini kerap memandang keterbatasan fisik sebagai penghalang untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu.
“Saya ingin membuktikan bahwa dengan keterbatasan yang kami miliki, kami tetap mampu. Teman-teman punya keterampilan, punya kemampuan, dan bisa menunjukkan hasil karya mereka kepada masyarakat,” ujarnya.
Keinginan itu tumbuh dari pengalaman pribadi Jigo setelah mengalami kecelakaan pada 2012 yang menyebabkan cedera tulang belakang dan membuatnya menjadi penyandang disabilitas. Perubahan hidup tersebut sempat membuatnya kehilangan kepercayaan diri.
Ia juga harus menghadapi stigma bahwa penyandang disabilitas tidak lagi mampu melakukan banyak hal. Namun, pengalaman itu justru menjadi titik balik yang mendorongnya untuk membangun ruang pemberdayaan bagi orang-orang dengan kondisi serupa. Jigo ingin teman-teman difabel memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja, dan membangun kehidupan yang lebih mandiri.
Perjalanan pemberdayaan itu mulai menemukan bentuknya ketika Jigo terlibat dalam kegiatan komunitas disabilitas di Denpasar. Ia melihat perlunya wadah yang tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga membuka peluang usaha dan pengembangan keterampilan.
Dari interaksi dengan komunitas, muncul gagasan untuk mengembangkan usaha kopi. Pilihan tersebut berangkat dari pengalamannya di bidang manajemen perhotelan serta ketertarikannya pada dunia peracikan minuman. Kopi dinilai memiliki pasar yang luas dan dapat dinikmati berbagai kalangan, sehingga berpotensi menjadi pintu masuk bagi penyandang disabilitas untuk terlibat langsung dalam kegiatan ekonomi.
Pengembangan Difel Café kemudian diperkuat melalui dukungan Pertamina, mulai dari pelatihan barista hingga penyediaan sarana produktif. Program pelatihan pertama dimulai pada 2 Juli 2023 dan berlangsung selama tiga bulan, kemudian diperpanjang tiga bulan berikutnya.
Dalam program tersebut, peserta mendapatkan pembekalan keterampilan meracik kopi, menggunakan peralatan, dan melayani pelanggan. Pertamina juga memberikan dukungan berupa dua mesin espresso, empat grinder, perlengkapan barista, serta sarana kendaraan usaha untuk mendukung mobilitas pemasaran. Intervensi tersebut menjadi fondasi agar keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam kegiatan usaha yang nyata.
Pembinaan tidak berhenti pada pelatihan teknis. Bagi Jigo, keberanian berinteraksi dengan pelanggan dan tampil di hadapan masyarakat merupakan bagian penting dari proses pemberdayaan. Ia memahami bahwa rasa malu dan kurang percaya diri dapat menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian penyandang disabilitas, terutama ketika baru pertama kali bekerja di ruang publik. Karena itu, ia terus mendorong anggota kelompoknya untuk berani menunjukkan kemampuan.
“Saya selalu bilang kepada teman-teman, kalian sudah dilatih dan punya keterampilan. Jangan berkecil hati. Tunjukkan kepada masyarakat bahwa kalian mampu,” kata Jigo.
Pendekatan tersebut perlahan membuahkan hasil. Anggota yang sebelumnya ragu mulai berani meracik kopi, melayani pelanggan, dan mengikuti kegiatan di luar tempat usaha tanpa harus selalu didampingi.
Pada 2026, program pelatihan barista kembali dilanjutkan melalui gelombang kedua dengan dukungan Pertamina. Sebanyak sembilan peserta mengikuti pelatihan selama tiga bulan. Dengan peserta dari gelombang pertama, jumlah anggota yang terlibat dalam kegiatan usaha Difel Café mencapai 15 orang. Mereka memiliki ragam kondisi disabilitas, sehingga proses pembinaan juga membutuhkan pendekatan yang memperhatikan kemampuan dan kebutuhan masing-masing.
Barista tuli yang bekerja di difabel coffe di Bali - (Pertamina)
Bagi Jigo, tujuan akhirnya bukan membuat anggota terus bergantung pada pendamping, melainkan membangun kepercayaan diri agar mereka dapat bekerja secara mandiri. Karena itu, setelah peserta mendapatkan pelatihan, ia secara bertahap memberikan ruang bagi mereka untuk menjalankan tugas sendiri.
Dampak pembinaan tersebut mulai terlihat dalam perkembangan usaha. Berdasarkan data pembukuan yang tercantum dalam materi program, Difel Café mencatat omzet penjualan sebesar Rp94,11 juta, surplus berdasarkan pembukuan sebesar Rp22,89 juta, serta kas kelompok Rp49,08 juta.
Angka tersebut menjadi gambaran perkembangan usaha yang dibangun melalui kombinasi peningkatan keterampilan, penyediaan peralatan, dan perluasan kesempatan berjualan. Meski demikian, bagi Jigo, keberhasilan tidak hanya diukur dari besarnya penjualan. Ia juga melihat perubahan sikap anggota yang semakin berani berinteraksi dengan pelanggan dan memahami bahwa keterampilan mereka memiliki nilai ekonomi.
Perkembangan pendapatan anggota turut menunjukkan perubahan manfaat ekonomi dari kegiatan usaha tersebut. Dalam materi program, manfaat ekonomi rata-rata per anggota digambarkan meningkat dari sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per bulan sebelum program, menjadi sekitar Rp500 ribu per bulan pada 2024.
Pada 2025, angka tersebut meningkat menjadi sekitar Rp1 juta per bulan, lalu diperkirakan mencapai Rp1,5 juta per bulan pada 2026. Angka itu merupakan estimasi manfaat ekonomi rata-rata berdasarkan perkembangan aktivitas usaha dan keterlibatan anggota dalam operasional maupun kegiatan penjualan, bukan angka pendapatan tetap yang diterima setiap anggota. Jigo berharap, seiring meningkatnya penjualan dan jumlah pelanggan, usaha ini dapat memberikan penghasilan yang lebih teratur bagi seluruh anggota.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Difel Café terus memperkuat kualitas produk dan membangun identitas kopi yang khas. Selain menyajikan minuman kopi, kelompok ini juga mengembangkan produk bubuk kopi dengan meracik biji arabika dan robusta yang telah disangrai. Jigo ingin menghasilkan racikan dengan karakter aroma yang dapat dikenali pelanggan.
Harga es kopi yang ditawarkan sekitar Rp25 ribu per gelas. Pada tahap pengembangan usaha, ia memilih menjaga kualitas produk sekaligus membangun basis pelanggan agar konsumen bersedia datang kembali. Baginya, pelanggan yang melakukan pembelian ulang merupakan salah satu tanda bahwa produk mereka mulai mendapatkan tempat di pasar.
Perluasan akses pasar juga menjadi bagian penting dari pembinaan Difel Café. Produk dan layanan mereka tidak hanya diarahkan untuk melayani pelanggan di tempat usaha, tetapi juga membuka peluang melalui kegiatan, acara masyarakat, perkantoran, instansi, dan hotel. Keterlibatan dalam berbagai acara memberi anggota kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan, memperkenalkan produk, sekaligus memperoleh tambahan penghasilan.
Ke depan, Jigo berharap kegiatan di luar tempat usaha tidak lagi membuat operasional kedai berhenti, sehingga anggota tetap dapat melayani pelanggan sekaligus mengikuti berbagai kesempatan pemasaran.
Ampas Kopi Jadi Barang Bernilai Ekonomi
DIfabel daksa yang mengubah ampas kopi menjadi dupa - (Pertamina)
Semangat berinovasi juga mendorong Difel Café untuk memperluas manfaat pemberdayaan melalui kolaborasi dengan kelompok Skizopreneur dari Rumah Berdaya. Melalui inisiatif yang dikembangkan Jigo, ampas kopi dari aktivitas usaha Difel Café dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan dupa beraroma kopi bernama Arusaji (Alumni Rumah Sakit Jiwa), yang diproduksi oleh tujuh anggota Skizopreneur.
Kolaborasi ini menjadi bentuk integrasi pemberdayaan antara Difapreneur dan Skizopreneur, yang menghubungkan 15 anggota Difel Café dengan 7 anggota Rumah Berdaya dalam satu ekosistem kewirausahaan sosial. Kelompok Difapreneur berperan dalam pengembangan usaha dan penyajian kopi, sementara kelompok Skizopreneur mengolah ampas kopi menjadi produk kreatif yang memiliki nilai jual, sehingga menciptakan peluang ekonomi yang saling terhubung bagi kedua kelompok.
*Ampas kopi yang sebelumnya menjadi sisa proses pembuatan espresso kini memperoleh nilai tambah melalui pengolahan menjadi dupa Arusaji. Inovasi ini tidak hanya mendukung penerapan prinsip ekonomi sirkular melalui pemanfaatan kembali bahan sisa, tetapi juga membuka peluang pendapatan bagi Orang dengan Skizofrenia (ODS) yang tergabung dalam kelompok Rumah Berdaya.*
Lebih dari sekadar inovasi produk, kolaborasi tersebut membawa misi sosial untuk mematahkan stigma negatif terhadap ODS yang kerap dipandang tidak mampu bekerja atau berkontribusi secara produktif. Melalui keterlibatan dalam proses produksi dupa Arusaji, anggota Skizopreneur memperoleh ruang untuk mengembangkan keterampilan, membangun kepercayaan diri, serta membuktikan bahwa mereka mampu menghasilkan karya yang bernilai ekonomi.
Integrasi pemberdayaan Difapreneur dan Skizopreneur ini memperlihatkan bagaimana satu kegiatan usaha dapat menciptakan manfaat yang lebih luas bagi kelompok rentan lainnya. Melalui dukungan Pertamina, sinergi antara Difel Café dan Rumah Berdaya tidak hanya menghadirkan inovasi pengelolaan ampas kopi, tetapi juga memperkuat ekosistem kewirausahaan sosial yang inklusif, mendorong keberlanjutan usaha, dan membuka peluang kemandirian ekonomi bagi kedua kelompok.
Di balik perkembangan usaha tersebut, Jigo menempatkan kemandirian dan rasa percaya diri anggota sebagai tujuan utama. Ia tidak ingin Difel Café hanya menjadi program bantuan yang berhenti ketika pelatihan selesai. Dukungan berupa peralatan, pelatihan, dan pembinaan harus menjadi modal bagi anggota untuk terus belajar serta mengembangkan usaha.
“Bagi saya, kebahagiaan itu ketika bisa membantu orang lain menjadi lebih mandiri dan sukses. Saya ingin teman-teman bangkit, percaya pada kemampuan sendiri, dan tidak menyerah dengan keadaan,” ujarnya.
Difel Café memperlihatkan bagaimana secangkir kopi dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih besar. Melalui dukungan Pertamina, program pemberdayaan ini berkembang menjadi ekosistem kewirausahaan sosial yang melibatkan 22 anggota, terdiri atas 15 Difapreneur dari Difel Café dan 7 Skizopreneur dari Rumah Berdaya. Dari keterampilan meracik kopi hingga inovasi pengolahan ampas menjadi dupa Arusaji, kolaborasi tersebut tidak hanya menciptakan peluang pendapatan dan nilai tambah ekonomi, tetapi juga membuka ruang bagi kelompok rentan untuk berkarya, membangun kepercayaan diri, serta mematahkan stigma sosial. Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa pemberdayaan inklusif mampu menghadirkan manfaat yang melampaui secangkir kopi dan tumbuh menjadi kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
Ikuti Whatsapp Channel Republika