ASSISI — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud menyerukan agar dunia tidak mengimpor perang ke Asia, melainkan mengekspor nilai-nilai perdamaian dari Asia.
Dia mengingatkan kembali prinsip salam dalam Islam, Vasudhaiva Kutumbakam dala Hindu, Ahimsa dalam Buddha, prinsip keharmonisan Konfusianisme, hingga kasih sayang dalam ajaran Kristen, para pemimpin agama untuk terus mendesak dialog, diplomasi, dan negosiasi demi mengakhiri perang.
Baca Juga- Keluarga yang Diinginkan Alquran: Suami Benteng dan Langit, Istri Laksana Bumi Tempat Berpijak
- Keluarga yang Diinginkan Alquran: Cerminan Anak Gadis Terhormat Penyejuk Hati
- Keluarga yang Diinginkan Alquran: Bagaimana Seharusnya Anak Laki-laki yang Ideal?
Hal tersebut disampaikan saat tampil sebagai salah satu tokoh penting dalam sesi Forum 21 bertajuk "Asia: Religions Seeking Peace in a World at War" (Asia: Agama-Agama di Bawah Pencarian Perdamaian di Dunia yang Dilanda Perang) yang digelar Komunitas Sant'Egidio di Colle del Paradiso, Sala Stampa, Assisi Italia.
Forum akbar yang berlangsung pada 25–27 Oktober 2026 mengusung tema Unarmed and Disarming Peace (Pemerintahan Damai Tanpa Senjata dan Melucuti Senjata).
Dalam pemaparannya yang berjudul Agama-Agama di Asia: Pencarian Perdamaian di Dunia yang Dilanda Perang (Sebuah Perspektif Islam), KH Marsudi Syuhud menyoroti realitas global yang tengah terkoyak oleh berbagai konflik bersenjata, mulai dari Gaza, Myanmar, Ukraina, hingga kawasan Timur Tengah seperti Iran, Palestina, dan Yaman.
"Hari ini, kita hidup di dunia yang tengah berperang. Pertanyaannya di manakah agama? Apakah agama bagian dari perang, atau bagian dari perdamaian?" ungkapnya di hadapan para pemuka agama dan akademisi dunia, dalam keterangannya Kamis (29/10/2026).
Sebagai representasi dari benua Asia yang dikenal sebagai tempat kelahiran berbagai agama besar dunia seperti Hindu di India, Buddha di Nepal, Konfusianisme di Tiongkok, hingga agama-agama samawi di Asia Barat, Kiai Marsudi menegaskan bahwa jika agama-agama lahir di Asia, maka semangat perdamaian juga harus lahir dan dipancarkan dari Asia.
Kiai Marsudi mengelaborasi pandangannya melalui empat pendekatan utama: dalil Alquran dan hadis, teladan sejarah Nabi Muhammad SAW, pandangan para ulama, serta prinsip-prinsip yurisprudensi (fiqh).
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika