Nasional

Psikolog 'Sentil' Orang Tua yang Ngeprank Anak Pakai Filter Hantu

JAKARTA -- Media sosial diramaikan dengan konten orang tua yang menakut-nakuti anak menggunakan filter hantu. Dalam konten yang beredar, orang tua sengaja mengerjai anak ketika menggunakan kamera depan smartphone. Tiba-tiba,...

29 Oktober 2026, pukul 00:13 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA -- Media sosial diramaikan dengan konten orang tua yang menakut-nakuti anak menggunakan filter hantu. Dalam konten yang beredar, orang tua sengaja mengerjai anak ketika menggunakan kamera depan smartphone.

Tiba-tiba, muncul filter Al yang menampilkan sosok hantu berwarna abu-abu sehingga membuat anak terkejut. Bahkan tak sedikit anak yang menangis dan menjerit karena ketakutan.

Baca Juga

Menanggapi fenomena ini, psikolog dari Universitas Indonesai Prof Rose Mini Agoes Salim mempertanyakan tujuan orang tua membuat konten yang mempermainkan perasaan anak dengan cara menakut-nakuti mereka. la menegaskan konten prank seperti ini bisa mengikis rasa aman serta kepercayaan terhadap orang tua.

Menurut dia, orang tua seharusnya dapat memilih aktivitas bermain yang lebih sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak, alih-alih sengaja membuat mereka merasa tidak nyaman demi menghasilkan konten hiburan. "Saya malah jadi bertanya-tanya ke orang tuanya, apa enggak ada kerjaan lain seorang ibu atau ayah untuk mempermainkan atau nge-prank anaknya dengan seperti itu?" kata Prof Rose saat dihubungi Republika, Rabu (28/10/2026).

Anak menangis (ilustrasi). - (Dok. Magnific)

 

la menjelaskan, anak-anak memiliki kemampuan kognitif yang terbatas karena masih berada dalam proses perkembangan. Pada tahap ini, mereka cenderung lebih mudah memahami informasi yang konkret atau nyata.

Anak juga belum tentu memahami konsep prank maupun teknologi filter yang digunakan untuk menciptakan sosok menyeramkan di layar ponsel. Akibatnya, kemunculan gambar hantu tersebut dapat diterima sebagai sesuatu yang menakutkan, bukan sekadar efek visual untuk bercanda.

"Anak kecil itu nggak tahu yang namanya pura-pura itu seperti apa, yang namanya filter itu apa. Kenapa kita mesti membuat jiwanya merasa nggak nyaman? Kalau kita bisa menggunakan permainan yang lain, yang lebih konkret, yang lebih lucu, mungkin lebih cocok untuk anak-anak," kata dia.

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait