JAKARTA -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ingin menjadikan Jakarta sebagai episentrum berbagai kegiatan berskala internasional. Berbagai konser, festival, hingga ajang olahraga yang digelar di Jakarta dinilai mampu mendatangkan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, dampak itu salah satunya terlihat dari penyelenggaraan festival musik Pestapora dan konser The Weeknd pada September lalu. Dua kegiatan tersebut disebut menghasilkan perputaran ekonomi hampir Rp250 miliar hanya dalam satu akhir pekan.
Baca Juga- myBCA Jakarta Running Festival 2026 Resmi Dibuka, Diikuti 37.000 Pelari dari 48 Negara
- Beragam Layanan Gratis Jadi Keuntungan Warga Ber-KTP Jakarta
- Pemprov DKI Gratiskan Naik Transjakarta Bagi Pencari Kerja, Ini Syaratnya
"September lalu, kita menggelar festival Pestapora, dan pada saat yang bersamaan digelar pula konser The Weeknd selama dua hari di Jakarta International Stadium (JIS), yang menghasilkan perputaran ekonomi hampir Rp250 miliar hanya dalam kurun satu akhir pekan," kata Pramono di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Akhir pekan ini, Jakarta kembali menjadi tuan rumah sejumlah kegiatan besar. Salah satunya myBCA Jakarta Running Festival (JRF) yang diikuti sekitar 37 ribu peserta dari 48 negara. Lebih dari 1.000 di antaranya merupakan pelari internasional.
Ajang yang kerap disebut sebagai "Lebaran para pelari" itu berlangsung di kawasan Gelora Bung Karno. Pada Sabtu (24/10/2026), kawasan yang sama juga menjadi lokasi konser musisi internasional Ye atau Kanye West di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).
Jakarta menjadi satu-satunya kota di Asia Tenggara dan Oseania yang disinggahi Ye dalam rangkaian turnya tahun ini.
Agenda berskala internasional juga masih akan berlanjut. Guns N' Roses dijadwalkan tampil di Jakarta pada November, disusul BTS pada 26, 27, dan 29 Desember 2026 serta Westlife pada Januari 2027.
"Tidak hanya itu, pada bulan November kita akan menyambut Guns N' Roses, tanggal 26, 27, dan 29 Desember kita menyambut BTS, serta Westlife pada bulan Januari. Hal ini menandakan bahwa Jakarta kini telah menjadi episentrum perhelatan dan kreativitas di Indonesia," kata Pramono.
Menurut Pramono, dampak ekonomi dari kegiatan besar tidak hanya berasal dari penyelenggara maupun penjualan tiket. Kehadiran pengunjung ikut menggerakkan hotel, restoran, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Besarnya perputaran ekonomi juga terlihat dalam sejumlah agenda tahunan Jakarta. Jakarta Fair 2026 di JIExpo Kemayoran mencatat transaksi sekitar Rp8,2 triliun dengan 6,1 juta pengunjung. Sementara Festival Jakarta Great Sale membukukan transaksi sekitar Rp26,8 triliun.
"Itulah sebabnya kami bertekad menjadikan Jakarta tuan rumah bagi lebih banyak ajang bertaraf internasional. Saya menyebutnya sebagai episentrum perhelatan (epicenter of events). Ketika sektor kreatif mampu menarik orang datang ke Jakarta, kami ingin manfaat ekonominya dapat dirasakan seluas-luasnya oleh masyarakat," kata dia.
Pramono pun mengajak masyarakat dari berbagai daerah hingga wisatawan mancanegara untuk datang menikmati berbagai kegiatan di Jakarta.
"Intinya adalah daripada pergi ke luar negeri, ke mana-mana, sudahlah datang ke Jakarta aja, belanja di Jakarta," kata dia.
Ekonomi Kreatif Rp410 Triliun
Besarnya aktivitas event menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Jakarta. Pramono mengatakan, sektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi sekitar Rp410 triliun atau hampir 11 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta.
Menurut dia, angka tersebut menunjukkan kreativitas telah menjadi salah satu penggerak penting perekonomian Jakarta.
"Sektor ekonomi kreatif Jakarta menyumbang lebih dari Rp410 triliun rupiah, atau sekitar 11 persen dari PDRB daerah kami. Hal ini membuktikan bahwa kreativitas merupakan motor penggerak utama bagi perekonomian kita," kata dia.
Pemprov DKI pun berupaya memperkuat ekosistem tersebut, bukan hanya dengan mendukung acara berskala besar, tetapi juga menyediakan ruang bagi masyarakat untuk berkreasi, bertemu, dan berkolaborasi.
Salah satu kawasan yang dijadikan contoh adalah Blok M. Kawasan itu kembali menjadi destinasi populer, terutama bagi anak muda, dengan berkembangnya kuliner, musik, perdagangan, hingga berbagai produk kreatif.
"Saking populernya, masyarakat kerap menjulukinya sebagai 'Negara Blok M' atau 'Republik Blok M'," ujar Pramono.
Menurut dia, salah satu kekuatan Blok M adalah konektivitas transportasi publik. Kawasan tersebut dapat dijangkau antara lain dengan Transjakarta dan MRT Jakarta sehingga masyarakat lebih mudah datang tanpa menggunakan kendaraan pribadi.
"Ini adalah bukti nyata bagaimana transportasi publik dan aktivitas kreatif dapat saling menguatkan," kata dia.
Pemprov DKI kini menyiapkan pola serupa untuk diterapkan secara bertahap di kawasan lain, antara lain Pasar Baru, Glodok Pecinan, dan Kota Tua. Pengembangan kawasan itu juga disiapkan seiring dengan perluasan jaringan MRT Jakarta ke arah utara.
Pasar Baru rencananya dikembangkan menjadi kawasan yang lebih hidup dengan kuliner dan aktivitas ekonomi hingga malam hari.
"Kami akan menata Pasar Baru agar hidup selama 24 jam dengan berbagai sajian kuliner Nusantara. Harapan saya, Pasar Baru nantinya dapat menjadi semacam Myeongdong-nya Jakarta," kata Pramono.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika