YOGYAKARTA -- Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dinilai memiliki tingkat resiliensi tinggi menghadapi tantangan ekonomi pada tahun 2027 mendatang. Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY yang juga Rektor Universitas Widya Mataram, Prof Edy Suandi Hamid, mengungkapkan berdasarkan pengalaman sebelumnya, DIY memang cukup tenang dalam menghadapi bencana yang datang silih berganti mulai dari erupsi Gunung Merapi hingga Covid-19.
"Kita punya modal yang baik untuk bertahan menghadapi gejolak ekonomi seperti saat ini. Bahkan gejolak gempa 2006 kita lebih cepat recovery-nya ketimbang Aceh. Begitu juga saat pandemi Covid-19," ujar Prof Edy saat berbicara pada acara Bank BPD DIY Economic Outlook 2027 yang mengusung tema 'Economic Resilience 2027: Dinamis Menghadapi Perubahan Inovatif Menciptakan Pertumbuhan', Selasa (27/10/2026).
Edy pun memprediksi DIY tidak akan menjadi provinsi termiskin se-Pulau Jawa tahun depan. Sebelumnya, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 tingkat kemiskinan di DIY masih menjadi yang tertinggi se-Pulau Jawa dengan persentase sebesar 10,23 persen. Namun tahun ini angkanya menurun menjadi 9,70 persen penduduk miskin saja.
Begitu juga soal ketimpangan pengeluaran yang diukur berdasarkan gini ratio. Menurut Prof Edy, jika sebelumnya gini ratio DIY selalu tinggi maka untuk tahun depan ia memprediksi angkanya akan terus menurun. Tahun ini sendiri koefisien gini ratio juga menunjukkan penurunan dari 0,414 menjadi 0,411.
"Menurut saya tahun depan DIY tidak akan menjadi provinsi termiskin di Jawa. Selain itu angka gini ratio juga semakin baik, sehingga DIY juga sepertinya tidak akan menjadi provinsi dengan ketimpangan tertinggi lagi," kata Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) 2006-2014 tersebut.
Salah satu yang menjadi tantangan bagi DIY saat ini, tutur Edy, adalah bagaimana mempertahankan angka pertumbuhan di atas rata-rata nasional. Pada triwulan II tahun ini, angka pertumbuhan DIY berada pada angka 5,75 persen, di atas angka rata-rata Pulau Jawa sebesar 5,65 persen dan di atas angka rata-rata nasional sebesar 5,29 persen.
"Angka ini yang perlu kita simulasikan bersama. Saat ini angkanya tinggi karena masih ada PSN (Proyek Strategis Nasional-Red) seperti bandara (YIA) dan proyek jalan tol. Namun ke depan waktunya kita berpikir inovatif. Bagaimana menciptakan pertumbuhan ekonomi Jogja tetap di atas nasional?" katanya.
Sementara itu, Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah Bank BPD DIY R. Agus Trimurjanto, mengatakan tema 'Economic Resilience 2027: Dinamis Menghadapi Perubahan Inovatif Menciptakan Pertumbuhan' sangat relevan bagi DIY karena saat ini kita tidak hanya dituntut mampu bertahan menghadapi perubahan, tetapi juga harus adaptif, inovatif, dan mampu menciptakan sumber pertumbuhan baru.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, kata Agus, resiliensi digital menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketahanan dan daya saing ekonomi. "Transformasi digital tidak cukup hanya dengan mengadopsi teknologi, tetapi juga harus disertai penguatan keamanan siber, keandalan sistem, perlindungan data, serta kemampuan beradaptasi terhadap risiko dan perubahan teknologi," kata Agus dalam keynote speech-nya.
Bagi industri perbankan, resiliensi digital menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat, memastikan keberlangsungan layanan keuangan, serta mendukung pertumbuhan bisnis yang aman dan berkelanjutan.
"Bagi Daerah Istimewa Yogyakarta, upaya tersebut perlu diwujudkan melalui penguatan sektor unggulan, pengembangan UMKM, peningkatan daya saing pariwisata dan ekonomi kreatif, serta percepatan sertifikasi halal. Semua ini membutuhkan dukungan pembiayaan, infrastruktur yang memadai, dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, serta industri jasa keuangan," katanya.
Dalam konteks inilah Bank BPD DIY berkomitmen untuk terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pembangunan daerah.
"Kami tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada kualitas pembiayaan, penguatan sektor produktif, transformasi digital, penerapan tata kelola yang baik, dan pengelolaan risiko secara prudent. Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan bank berjalan sehat sekaligus memberikan nilai tambah nyata bagi perekonomian dan masyarakat DIY," ujar Agus.
Selain menghadirkan Prof Edy Suandi Hamid, kegiatan economic outlook tersebut juga menghadirkan Ekonom Senior INDEF, Aviliani, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM, Bayu Sutikno, serta dimoderatori oleh Dosen FEB UGM, Gumilang Aryo Sahadewo.
Ikuti Whatsapp Channel Republika