TEHERAN — Iran tidak akan mengambil langkah baru sebelum Amerika Serikat (AS) mematuhi dan mengimplementasikan tujuh syarat yang telah disampaikan Teheran kepada Washington. Sumber tepercaya Iran mengungkapkan hal tersebut kepada Al Mayadeen, seraya menegaskan bahwa tuntutan tersebut merupakan "garis merah" (red line) yang tidak dapat ditawar.
Sumber tersebut juga membeberkan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance baru-baru ini saling berkirim surat dengan Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei. Ia membantah narasi yang disampaikan Presiden AS Donald Trump terkait pertukaran pesan tersebut dan menyebutnya "sama sekali tidak benar".
Baca Juga- Senator AS Ungkap Sudah Diinfo Rencana ‘Gila’ Perang Baru Terhadap Iran, Trump akan Gunakan Nuklir?
- Putra Netanyahu: Pemilu di Israel dicuri oleh Qatar, Turki, dan Negara Arab, Turki Langsung Jawab
- Karhutla dan Polusi Udara Disebut Tewaskan 5.310 Orang di Indonesia
Sumber itu juga mengecam klaim Trump yang menyebut surat Vance merupakan balasan atas permintaan peralatan dan obat-obatan dari pihak Iran. Sumber tersebut menekankan bahwa laporan media Amerika yang menggambarkan korespondensi itu sebagai bentuk kemajuan dalam perundingan, atau sebagai tanda mundurnya Iran, adalah keliru.
Pertukaran pesan antara pejabat AS dan Iran bukanlah "hal yang luar biasa" dan memiliki rekam jejak sebelumnya, catat sumber tersebut. Namun, keputusan para pejabat senior AS untuk beralih ke jalur korespondensi justru mencerminkan ketidakmampuan Washington dalam mencapai tujuannya melalui cara lain.
Teheran baru akan membeberkan isi surat tersebut "pada waktu yang dianggap tepat," ungkap sumber tersebut.
Tujuh syarat Iran
Kepada Al Mayadeen, sumber tersebut menegaskan bahwa ketujuh syarat yang diajukan Iran harus dipenuhi "sekaligus" dan tidak dilakukan secara bertahap. Pihaknya menyatakan, tidak ada pembukaan kembali Selat Hormuz maupun perundingan baru sebelum seluruh syarat Iran dipenuhi.
Iran tidak akan mundur dari tuntutan tersebut meskipun berada di bawah tekanan diplomasi, tegas sumber itu.
Mengenai isu nuklir, sumber tersebut menilai bahwa fokus AS yang kembali mengemuka pada file nuklir merupakan upaya Washington untuk melucuti kartu daya tangkal (deterrence) nuklir Iran. Washington ingin memanfaatkan isu ini untuk menampilkan perang seolah-olah sebagai sebuah keberhasilan, serta berusaha mengikis atau menyita kemampuan nuklir Iran melalui tekanan psikologis dan diplomatik.
"Jika Amerika Serikat mengklaim telah menghancurkan material nuklir yang diperkaya, mengapa mereka terus menuntutnya?" tanya sumber tersebut.
Teheran menaruh curiga bahwa pemindahan material terayakan keluar dari negara itu justru akan memicu Washington melancarkan agresi baru, bukan mengakhiri perang.
Personel paramiliter Iran, Basij ambil bagian dalam parade militer di Teheran, Jumat (18/9/2026). - (EPA/Abedin Taherkenareh)
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika