REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memandang kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah perkembangan El Nino saat ini dapat menimbulkan dampak ekonomi yang jauh lebih luas dibandingkan dengan nilai lahan atau hutan yang terbakar.
“Bencana mempunyai multiplier effect yang sering tidak terlihat pada hari pertama. Awalnya mungkin kebakaran lahan. Setelah itu muncul masalah kesehatan, aktivitas kerja terganggu, sekolah terganggu, transportasi terganggu dan pada akhirnya kegiatan ekonomi dan daya hidup masyarakat ikut melemah," kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (23/8/2026).
Baca Juga- BNPB: Luas Karhutla di Enam Provinsi Capai 73.425 Hektare
- Jelang MotoGP Mandalika, NTB Siapkan Destinasi Alternatif Usai Desa Sade Terbakar
- 91 Orang Meninggal Akibat Gempa NTT, 49 Persen karena Dampak tak Langsung Seperti Sakit Jantung
Ia menjelaskan kabut asap dapat meningkatkan gangguan pernapasan dan biaya kesehatan masyarakat. Aktivitas sekolah juga dapat terganggu dan produktivitas pekerja dapat menurun ketika kualitas udara memburuk.
Gangguan juga dapat menjalar ke penerbangan dan transportasi, distribusi barang, perdagangan lokal, serta aktivitas masyarakat sehari-hari.
Pada wilayah yang bergantung pada pertanian, kondisi kering yang berkepanjangan juga dapat memengaruhi ketersediaan air dan produksi pangan. Jika berlangsung cukup lama, dampaknya dapat muncul dalam bentuk tekanan harga pangan dan penurunan pendapatan masyarakat.
Menurut Fakhrul, pencegahan bencana sebenarnya juga merupakan bagian dari menjaga keberlangsungan kegiatan ekonomi. Salah satu karakter unik dari anggaran kebencanaan, ujar dia, adalah keberhasilannya sering justru terlihat ketika sesuatu tidak terjadi.
Ketika kebakaran berhasil dikendalikan sebelum meluas, tidak ada aktivitas ekonomi yang berhenti. Ketika sistem peringatan bekerja dengan baik, masyarakat dapat mengantisipasi risiko lebih awal.
Ketika logistik dan peralatan telah tersedia, respons juga dapat dilakukan tanpa harus menunggu keadaan memburuk.
Menurutnya, kerugian yang berhasil dicegah tersebut jarang muncul dalam statistik ekonomi, tetapi mempunyai nilai yang nyata bagi masyarakat.
“Kita sering dapat menghitung biaya sebuah bencana setelah terjadi. Yang jauh lebih sulit dihitung adalah kerugian yang tidak jadi terjadi karena pencegahan bekerja. Padahal secara ekonomi nilainya bisa sangat besar,” kata Fakhrul.
Oleh sebab itu, menurut Fakhrul, prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati bukan hanya prinsip sosial atau kesehatan, tetapi juga mempunyai logika ekonomi yang kuat.
Warga berada di atas perahu tradisional dengan latar belakang jembatan Ampera Palembang yang tertutup kabut asap di kawasan 16 ilir Palembang, Sumatera Selatan, Ahad (23/8/2026). Berdasarkan citra satelit Himawari-9 yang dipantau BMKG pada Ahad (23/8) pukul 10:00 WIB, terdeteksi terjadi sebaran asap di wilayah Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah dan Papua Selatan akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di daerah tersebut, dan menyebabkan jarak pandang di Kota Palembang pada pagi hari kurang dari 50 meter sedangkan kualitas udara masuk dalam kategori Berbahaya pada malam dan pagi hari. - (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : ANTARA