REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), Prof Nadirsyah Hosen atau yang akrab disapa Gus Nadir, mengingatkan pentingnya santri mengembangkan kemampuan di luar penguasaan ilmu agama untuk menghadapi tantangan zaman.
Di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), santri dituntut memiliki wawasan global, literasi digital, dan keterampilan praktis tanpa meninggalkan tradisi keilmuan pesantren.
Baca Juga- Mengapa Sikap Negara-Negara Balkan yang Muslim terhadap Israel Berbeda?
- Jalan Menuju Surga yang Digariskan Rasulullah SAW untuk Istri Salehah
- 14 Abad Silam Alquran Isyaratkan Bentuk Bumi Bulat Bukan Datar, Bantah Argumentasi Ateis
Gus Nadir mengatakan, pada masa lalu, kemampuan menghafal dan mengaji dengan baik menjadi bekal utama bagi seorang santri.
Tradisi hafalan dan penguasaan kitab kuning merupakan fondasi penting yang membentuk karakter sekaligus memperdalam keilmuan mereka.
“Santri zaman dulu memang sudah cukup jika mampu menghafal dan mengaji dengan baik. Tradisi hafalan dan penguasaan kitab kuning itu menjadi fondasi kuat yang membentuk karakter serta kedalaman keilmuan mereka,” ujar Gus Nadir saat dihubungi Republika.co.id, menjelang peringatan Hari Santri Nasional 2026, Kamis (22/10/2026).
Namun, menurut dia, kebutuhan santri masa kini semakin berkembang. Perubahan zaman yang berlangsung cepat, terutama di era AI, membuat santri perlu membekali diri dengan beragam kemampuan agar dapat menjawab persoalan masyarakat yang semakin kompleks.
“Santri zaman sekarang tidak lagi cukup hanya dengan itu. Mereka juga harus melek wawasan global, memiliki literasi digital, dan mengikuti kajian-kajian yang secara langsung meningkatkan *skill* praktis,” ucapnya.
Gus Nadir menilai, santri tidak cukup hanya menjadi penghafal. Mereka juga perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menggunakan teknologi secara bijak, serta menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di tengah perubahan sosial dan teknologi.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika