HEBRON — Serangan militer Israel di Hebron, Tepi Barat yang diduduki, memasuki hari keenam pada Rabu (28/10/2026). Operasi yang disertai penggerebekan rumah, penutupan akses, dan penangkapan warga itu telah memaksa hampir 5.000 warga Palestina meninggalkan tempat tinggal mereka.
Pemerintah Kota Hebron mencatat sebanyak 4.969 warga dari 780 keluarga telah mengungsi akibat operasi militer Israel tersebut. Jumlah itu dilaporkan terus bertambah seiring berlanjutnya penggerebekan dan pembatasan pergerakan di sejumlah wilayah kota serta daerah sekitarnya.
Laporan Palestine Chronicle, Rabu (28/10/2026), menyebut pasukan Israel kembali memasuki sejumlah kota dan kamp pengungsi Al-Fawwar pada tengah malam. Mereka menggeledah rumah-rumah warga dan memperketat penjagaan di pintu-pintu masuk Hebron.
Rekaman Anadolu Agency memperlihatkan tentara Israel menghentikan warga Palestina di dekat bundaran Al-Jalda, memeriksa mereka, dan memperlakukan sejumlah warga secara kasar.
Pasukan Israel juga mempertahankan penutupan akses di kawasan Al-Jalda dan Deir Baha. Sejumlah keluarga dilaporkan dipaksa mengosongkan bagian-bagian rumah mereka di tengah operasi militer yang terus berlangsung.
Dampak pengungsian tersebut tidak hanya dirasakan oleh keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Di antara warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka terdapat 336 bayi, 441 lansia, 216 perempuan hamil dan menyusui, 44 penyandang disabilitas, serta 312 orang dengan penyakit kronis.
Seorang tentara Israel berbicara dengan seorang pengemudi di pos pemeriksaan utara yang diblokir di Hebron, di Tepi Barat yang diduduki, pada 24 Oktober 2026. - (HAZEM BADER/AFP)
Data Pemerintah Kota Hebron itu menunjukkan besarnya kebutuhan perlindungan dan bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak, terutama mereka yang membutuhkan perawatan kesehatan secara rutin.
Pengepungan juga menghambat pergerakan pasien dan ambulans. Penutupan jalan serta pos pemeriksaan militer menyulitkan warga mengakses layanan penting, termasuk pertolongan medis.
Direktur Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Tepi Barat, Roland Friedrich, sebelumnya menyampaikan keprihatinan mendalam atas operasi militer Israel di Hebron.
Dia memperingatkan bahwa pembatasan pergerakan secara menyeluruh di sebagian besar wilayah kota telah mengganggu kebebasan bergerak warga dan akses mereka terhadap layanan esensial.
Friedrich juga mengingatkan bahwa situasi tersebut menyerupai pengungsian massal di Tepi Barat bagian utara pada awal 2025. Kala itu, lebih dari 34 ribu pengungsi Palestina dari kamp Jenin, Tulkarm, dan Nur Shams terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sebagian dari mereka masih belum dapat kembali.
UNRWA turut memperingatkan bahwa penghukuman kolektif terhadap penduduk melanggar hukum internasional.
Penghancuran yang dilakukan tentara penjajah Israel di Hebron, Tepi Barat, Ahad (24/10/2026). - (Quds News Network/X)
Puluhan warga ditangkap
Operasi militer Israel di Hebron juga disertai penangkapan besar-besaran. Perhimpunan Tahanan Palestina melaporkan, sebanyak 85 warga Palestina ditangkap di wilayah Kegubernuran Hebron sejak Jumat hingga Senin.
Penangkapan dan penggerebekan turut meluas ke sejumlah wilayah lain di Tepi Barat.
Di Tulkarm, pasukan Israel menangkap jurnalis Hamza Salama Al-Safi, yang sebelumnya dibebaskan melalui pertukaran tahanan, bersama dua saudaranya, Mu'min dan Mustafa. Sementara itu, 11 warga Palestina ditahan di Qalqilya, sebagian besar di antaranya merupakan mantan tahanan.
Di wilayah Al-Shuyoukh, utara Hebron, empat warga Palestina juga ditangkap ketika sedang memanen zaitun. Mereka adalah Abdullah, Abdul Basit, dan Muhammad Al-Mashni, serta Ayoub Al-Mashni. Keempatnya dilaporkan dibawa ke permukiman Asfir yang dibangun Israel di wilayah pendudukan.
Pasukan Israel juga dilaporkan mengambil alih enam bangunan tempat tinggal dan sebuah kafe di sejumlah wilayah Tepi Barat untuk dijadikan barak militer dan lokasi interogasi lapangan.
Di Masafer Yatta, selatan Hebron, seorang warga Palestina bernama Issa Awad mengalami luka di wajah setelah diserang oleh pemukim Israel di Khirbet Al-Fakhit. Pasukan Israel juga menangkap Muhammad Yusuf Makhamra setelah serangan pemukim di dekat desa tersebut.
Operasi militer Israel di Hebron dimulai pada Jumat setelah dua warga Palestina menyerang pos pemeriksaan Israel. Menurut data pihak Israel, dua tentara Israel tewas dan tiga lainnya terluka. Pasukan Israel kemudian membunuh kedua warga Palestina tersebut.
Setelah insiden itu, militer Israel memperluas operasi dan memberlakukan penutupan di berbagai akses menuju Hebron, termasuk jalan masuk ke sejumlah kota, desa, dan kamp pengungsi di sekitarnya.
Pihak Palestina menuding pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memanfaatkan operasi tersebut untuk menggalang dukungan pemilih dari kalangan pemukim menjelang pemilihan umum Israel.
Situasi di Hebron menambah panjang daftar pengungsian paksa warga Palestina di Tepi Barat. Pada saat yang sama, penggerebekan, penangkapan, pembatasan akses, dan kekerasan pemukim terus memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah yang diduduki Israel tersebut.
Ikuti Whatsapp Channel Republika