Nasional

Harga Minyak Dunia Diproyeksi Melandai Tahun Depan, Ini Dampaknya pada Ekonomi

SABANG — Bank Danamon memproyeksikan harga minyak mentah dunia berpotensi mengalami penurunan pada 2027. Perubahan tren ini terjadi seiring peluang meredanya konflik geopolitik dan membaiknya pasokan global. Harga minyak jenis...

5 November 2026, pukul 15:25 WIB · dibaca 0 kali

SABANG — Bank Danamon memproyeksikan harga minyak mentah dunia berpotensi mengalami penurunan pada 2027. Perubahan tren ini terjadi seiring peluang meredanya konflik geopolitik dan membaiknya pasokan global.

Harga minyak jenis Brent diperkirakan turun menjadi 85 dolar AS per barel pada tahun depan, dari proyeksi sekitar 95 dolar AS per barel pada 2026. Penurunan ini diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap ekonomi global.

Baca Juga

Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz, mengatakan perkembangan harga minyak dunia masih sangat dipengaruhi dinamika geopolitik, khususnya konflik Amerika Serikat dan Iran. Namun, terdapat peluang penurunan harga apabila upaya diplomasi kedua negara berlanjut dan gangguan pasokan energi global mulai teratasi.

"Kalau misalnya konflik geopolitik ini deescalate dan juga refineries yang ditutup karena konflik ini dibuka kembali, maka OPEC plus countries bisa catch up dengan produksi sehingga nanti kondisi di market oil ini akan oversupply," kata Irman dalam pemaparannya, Kamis (5/10/2026).

Dia menjelaskan, negara-negara anggota OPEC+ telah berkomitmen mempertahankan produksi minyak pada level yang lebih tinggi dibandingkan proyeksi permintaan pada 2027. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan kelebihan pasokan apabila distribusi minyak global kembali normal.

Saat ini, tingginya permintaan dibandingkan pasokan antara lain dipengaruhi gangguan rantai pasok minyak global akibat konflik geopolitik. Sejumlah negara juga mulai menggunakan persediaan minyak yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan energi di tengah terbatasnya pasokan.

Namun, apabila konflik mereda dan kilang-kilang yang sebelumnya terganggu kembali beroperasi, pasokan minyak berpeluang meningkat. Kondisi tersebut diperkirakan turut memperbaiki persediaan minyak global secara bertahap.

"Jadi ini yang kita expect di tahun depan itu harusnya kondisi membaik," ujar Irman. Pelaku pasar diimbau tetap waspada terhadap dinamika yang berjalan.

Sebagai gambaran perkembangan terkini, harga minyak Brent pada perdagangan Kamis (5/11/2026) bergerak volatil. Setelah sempat berada di sekitar 93,63 dolar AS per barel pada perdagangan pagi waktu Beijing, harga Brent kemudian menguat menjadi 97,56 dolar AS per barel pada pukul 14.17 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate berada di 89,85 dolar AS per barel. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih merespons ketidakpastian perkembangan konflik geopolitik di kawasan penghasil minyak.

Irman menilai, potensi penurunan harga minyak dunia akan memberikan pengaruh terhadap inflasi global. Meski demikian, dampaknya tidak akan langsung dirasakan konsumen di berbagai negara.

Penurunan harga minyak mentah membutuhkan waktu untuk diteruskan ke produk energi olahan. Proses transmisi ini dinilai cukup panjang bagi sektor hilir.

Dia mencontohkan harga diesel di Amerika Serikat yang mengalami kenaikan jauh lebih tinggi dibandingkan harga minyak mentah. Kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi kenaikan harga bahan baku, tetapi juga gangguan logistik dan operasional kilang pengolahan.

"Unfortunately mungkin dampaknya akan lebih bertahap kepada inflasi di level konsumen," kata dia. Pihaknya terus mengkaji proyeksi ekonomi secara mendalam.

Menurut Irman, minyak mentah merupakan produk hulu, sedangkan produk yang dikonsumsi masyarakat merupakan produk hilir. Karena itu, minyak mentah yang harganya mulai turun masih harus melalui proses pengolahan dan distribusi sebelum penurunan tersebut tercermin pada harga produk energi.

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait