Nasional

Hukum Peradaban di Balik Kehidupan Umat Manusia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Sejarah manusia dipenuhi kisah tentang bangsa-bangsa yang pernah mencapai puncak kejayaan. Sebagian meninggalkan kota-kota megah, ilmu pengetahuan, perdagangan yang hidup, dan pengaruh yang melintasi zamannya. Sebagian lain perlahan...

29 Juni 2026, pukul 15:00 WIB · dibaca 0 kali

Oleh: Azis Subekti, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Sejarah manusia dipenuhi kisah tentang bangsa-bangsa yang pernah mencapai puncak kejayaan. Sebagian meninggalkan kota-kota megah, ilmu pengetahuan, perdagangan yang hidup, dan pengaruh yang melintasi zamannya. Sebagian lain perlahan menghilang, tinggal menjadi catatan sejarah atau reruntuhan yang mengundang kekaguman sekaligus pertanyaan.

Pergantian itu terus berulang. Kerajaan tumbuh dan runtuh. Imperium berganti. Revolusi datang silih berganti. Teknologi mengubah cara manusia hidup.

Baca Juga

Namun di balik seluruh perubahan itu, seolah bekerja suatu keteraturan yang tidak pernah diumumkan.

Bukan hukum yang ditulis oleh parlemen atau diputuskan di ruang pengadilan, melainkan hukum yang hanya dapat diketahui setelah sejarah berjalan cukup panjang.

Ia tidak memihak bangsa mana pun. Tidak membedakan ras, agama, bahasa, ataupun sistem politik. Bangsa yang memahaminya memperoleh peluang untuk terus bertumbuh, sedangkan bangsa yang mengabaikannya perlahan kehilangan daya hidup, bahkan ketika dianugerahi kekayaan alam, wilayah yang luas, atau sejarah yang besar.

Barangkali karena itu ia layak disebut sebagai hukum peradaban.

Sejak manusia mulai menetap, mengenal pertanian, membangun kota, mengarungi samudra, menemukan mesin uap, menciptakan listrik, menghubungkan dunia melalui internet, hingga memasuki era kecerdasan buatan, satu pertanyaan terus mengikuti perjalanan umat manusia: mengapa sebagian bangsa mampu bertahan dan memimpin zamannya, sementara sebagian lain memudar meskipun pernah begitu berjaya?

Jawabannya tentu tidak tunggal. Ada yang menunjuk letak geografis, kualitas institusi, pendidikan, ilmu pengetahuan, perdagangan, budaya, ataupun stabilitas politik. Seluruhnya memiliki dasar yang kuat.

Namun ketika seluruh penjelasan itu diamati dalam rentang sejarah yang panjang, tampak sebuah pola yang terus berulang.

Peradaban jarang kehilangan masa depannya karena kehabisan sumber daya. Ia lebih sering kehilangan masa depannya ketika berhenti menciptakan nilai baru; ketika masyarakat lebih banyak menghabiskan daripada menghasilkan, lebih sibuk mempertahankan daripada memperbarui, lebih gemar bereaksi daripada berkarya, dan lebih puas mewarisi daripada mewariskan.

Di situlah sejarah mulai berbelok.

Diam-diam.

Hampir tanpa suara.

Palu hakim (Ilustrasi). Hakim mengusir Nicolas Gil Pereg sebagai terdakwa kasus dugaan pembunuhan karena terus mengeong, di pengadilan kota Mendoza, Argentina, Selasa (26/10). - (EPA)

 

Loading... Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Lihat di situs asli

Berita terkait