HANOI -- Vietnam diproyeksikan mencatatkan produk domestik bruto (PDB) per kapita sebesar 5.259 dolar AS atau sekitar Rp95,33 juta pada tahun ini. Angka tersebut melampaui proyeksi PDB per kapita Indonesia sebesar 5.153 dolar AS atau sekitar Rp93,42 juta, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).
Berdasarkan laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2026, PDB nominal per kapita Vietnam meningkat 8,9 persen dibandingkan tahun lalu dan hampir dua kali lipat dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Baca Juga- Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Kian Memburuk, Dunia Didesak Bertindak
- OJK Dongkrak Inklusi Keuangan Syariah, SYAFIF 2026 Catat 10.598 Rekening Baru
- Perluas Edukasi Keuangan Syariah, OJK Rilis Buku ‘Pelita Syariah’
Berdasarkan estimasi IMF, Vietnam masih tertinggal sekitar 250 dolar AS dari Indonesia pada tahun lalu. Bahkan, dalam proyeksi IMF edisi April, Indonesia diperkirakan masih mempertahankan posisi di atas Vietnam pada 2026.
Dilansir VnExpress, jika proyeksi terbaru tersebut terealisasi, Vietnam akan menempati peringkat kelima di antara negara-negara ASEAN berdasarkan PDB per kapita, di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand.
IMF memperkirakan Vietnam akan tetap unggul atas Indonesia pada 2027. PDB per kapita Vietnam diproyeksikan mencapai 5.659 dolar AS, sedangkan Indonesia sebesar 5.550 dolar AS.
Meski demikian, Indonesia masih menjadi negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara. Dengan jumlah penduduk hampir tiga kali lipat dibandingkan Vietnam yang sedikit di atas 100 juta jiwa, PDB Indonesia diproyeksikan mencapai 1,48 triliun dolar AS tahun ini. Sementara itu, PDB Vietnam diperkirakan sebesar 542 miliar dolar AS.
Nikkei Asia mengaitkan perubahan posisi PDB per kapita tersebut dengan meningkatnya peran Vietnam dalam industri manufaktur berteknologi tinggi, khususnya semikonduktor dan elektronik.
Perusahaan asal Taiwan, Foxconn, dilaporkan tengah memperluas kapasitas produksinya di Vietnam. Sementara itu, perusahaan Korea Selatan, Samsung Electronics, memproduksi ponsel pintar dan berbagai produk elektronik lainnya untuk pasar ekspor melalui pabrik-pabriknya di wilayah utara Vietnam.
Perekonomian Vietnam tumbuh 9,95 persen pada kuartal III 2026. Angka tersebut menjadi laju pertumbuhan tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Selain industri manufaktur, dorongan investasi pemerintah juga turut menopang pertumbuhan ekonomi Vietnam. Senior Research Fellow pada Institute of Developing Economies Jepang, Mai Fujita, mengatakan kepada Nikkei Asia bahwa peningkatan investasi publik pemerintah menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan tersebut.
Vietnam berencana mengalokasikan anggaran sebesar 1,014 kuadriliun dong Vietnam atau setara 39,3 miliar dolar AS untuk investasi publik tahun ini. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan jalan, bandara, dan berbagai infrastruktur lainnya di seluruh negeri.
Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung bertahan di kisaran 5 persen. IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen tahun ini, jauh di bawah proyeksi pertumbuhan Vietnam sebesar 8,4 persen.
Pemerintah Vietnam menargetkan pertumbuhan ekonomi minimal 10 persen pada tahun ini. Vietnam juga membidik peningkatan PDB per kapita menjadi sekitar 8.500 dolar AS pada 2030, atau kurang lebih setara dengan level Thailand saat ini.
Fujita mengatakan, Vietnam juga perlu memperkuat strategi pertumbuhan jangka panjang melalui pengembangan sumber daya manusia dan teknologi. Upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan belanja infrastruktur yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.
Ikuti Whatsapp Channel Republika