Nasional

Indef Wanti-Wanti Lonjakan Harga Pangan Jelang Natal dan Tahun Baru 2027

JAKARTA -- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperingatkan risiko kenaikan harga pangan menjelang perayaan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru). Tekanan harga berpotensi meningkat akibat...

6 November 2026, pukul 01:42 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA -- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperingatkan risiko kenaikan harga pangan menjelang perayaan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru). Tekanan harga berpotensi meningkat akibat bertambahnya permintaan masyarakat di tengah pasokan pangan yang menyusut karena dampak fenomena El Nino.

Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef, Afqah Hudaya, mengatakan tekanan terhadap harga pangan diperkirakan belum mencapai puncaknya. Kondisi tersebut perlu diantisipasi pemerintah karena periode Nataru biasanya diikuti peningkatan kebutuhan bahan pangan, sedangkan produksi pertanian sedang menghadapi tekanan akibat kekeringan.

Baca Juga

"Karena dalam beberapa minggu ke depan itu kita mulai memasuki periode Nataru ya, yang mana memang permintaan pangan juga biasanya meningkat," kata Afqah dalam diskusi publik bertajuk "Tanggapan Atas Kinerja Ekonomi Kuartal III 2026" yang digelar secara daring, Kamis (5/11/2026).

Ia menjelaskan, ancaman kenaikan harga pangan berkaitan dengan penurunan produksi pertanian sepanjang 2026. Berdasarkan data yang dipaparkannya, produksi padi nasional diproyeksikan mencapai 57,45 juta ton pada tahun ini, turun 4,57 persen dibandingkan produksi 2025 yang mencapai 60,20 juta ton.

Penurunan paling tajam diperkirakan terjadi pada kuartal IV 2026. Produksi padi periode Oktober hingga Desember diproyeksikan menyusut dari 10,38 juta ton pada tahun sebelumnya menjadi 8,69 juta ton atau turun sekitar 16,3 persen. Kondisi tersebut menunjukkan dampak kekeringan semakin terasa terhadap ketersediaan pangan pada penghujung tahun.

Menurut Afqah, risiko terhadap pasokan pangan juga dapat berlanjut hingga awal 2027. Fenomena El Nino berpotensi menggeser kalender tanam akibat keterlambatan datangnya hujan. Pergeseran musim tanam tersebut dapat menyebabkan panen raya tahun depan ikut mundur dan memperpanjang periode paceklik.

"Nah, itu akibatnya nanti akan ada momen ketika masa paceklik gitu ya, yang mana periode ketika pasokan gabah dari petani itu akan menjadi sangat rendah," ujarnya.

Afqah menambahkan, dampak kekeringan tidak hanya mengancam produksi padi, tetapi juga komoditas pangan lain seperti jagung, cabai, sayuran, dan hasil perkebunan. Berkurangnya produksi berbagai komoditas tersebut berpotensi memperbesar tekanan harga ketika permintaan masyarakat meningkat menjelang pergantian tahun.

Tekanan harga pangan sebenarnya sudah terlihat dari perkembangan inflasi komponen harga bergejolak atau volatile food. Afqah memaparkan inflasi komponen tersebut meningkat dari 2,52 persen pada Juli menjadi 4,06 persen pada Agustus, kemudian 5,03 persen pada September, dan mencapai 5,81 persen pada Oktober 2026.

Pada periode yang sama, inflasi umum tercatat mencapai 3,23 persen atau mendekati batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia. Afqah mengingatkan pemerintah memiliki ruang yang semakin terbatas untuk menghadapi tambahan tekanan harga pangan apabila pasokan terus berkurang hingga awal tahun depan.

"Jadi, jawaban itu harus datang dari kebijakan pasokan dan distribusi pangan, ya," tuturnya.

Afqah menjelaskan, pemerintah perlu memperkuat langkah antisipasi melalui percepatan masa tanam dan pengamanan pasokan air. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan optimalisasi pompanisasi, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, pemanfaatan embung di sentra produksi padi, serta penyediaan benih yang tahan terhadap kekeringan.

Indef juga mendorong pemerintah meningkatkan penyaluran cadangan beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), khususnya di provinsi dengan tingkat inflasi pangan tinggi. Langkah ini perlu diikuti penguatan distribusi melalui pasar rakyat dan pengawasan untuk mencegah kebocoran penyaluran.

Pemerintah turut diminta memperkuat kerja sama pasokan antara daerah surplus dan daerah defisit, terutama untuk komoditas cabai dan sumber protein hewani. Penyediaan fasilitas penyimpanan berpendingin atau cold storage serta perencanaan pengadaan bahan pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemasok lokal juga diperlukan agar tidak memicu lonjakan harga ayam dan telur.

Perlindungan terhadap kelompok masyarakat rentan menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi tekanan pangan menjelang Nataru. Indef mendorong perluasan bantuan pangan bagi buruh tani, petani gurem, dan nelayan untuk menjaga daya beli masyarakat apabila masa paceklik berlangsung lebih panjang hingga kuartal I 2027.

Loading... sumber : Antara
Lihat di situs asli

Berita terkait