REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ancaman kekeringan dan naiknya air pasang laut menjadi tantangan serius bagi petani di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University menguji dua varietas padi unggul yang berpotensi meningkatkan produktivitas pertanian hingga lebih dari 10 ton per hektare.
Kedua varietas tersebut adalah IPB 9G dan IPB 15S, yang dikembangkan melalui penelitian pemuliaan tanaman IPB University. Selain memiliki potensi produksi tinggi, kedua varietas ini diharapkan dapat memperluas pilihan benih bagi petani dalam menghadapi perubahan musim dan keterbatasan air.
Baca Juga- Pemkab Penajam Paser Utara Gencar Jaga Stabilitas Harga Pangan Demi Kendalikan Inflasi
- Jaga Eksistensi di Pasar Pelumas Tanah Air, Merek Oli Ini Kembali Raih Superbrands Award 2026
- Bea Cukai Perketat Pengawasan Penumpang di Bandara Lombok Usai Gagalkan Penyelundupan Emas Rp13,1 Miliar
Uji coba dilakukan melalui penanaman di lahan percontohan atau demonstration plot (demplot) seluas empat hektare di Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, pada 21 September 2026. Program yang melibatkan Kementerian Transmigrasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat produksi pangan sekaligus memperkenalkan teknologi pertanian modern kepada masyarakat kawasan transmigrasi.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa kehadiran para akademisi dan peneliti di kawasan transmigrasi bukan sekadar kegiatan penelitian. Mereka juga diharapkan menghasilkan data lapangan yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan ekonomi masyarakat.
"Para Patriot adalah mata dan telinga kita di lapangan. Hasil kerja mereka akan menjadi salah satu fondasi penting bagi kebijakan dan pembangunan kawasan transmigrasi ke depan," kata Iftitah dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Menurut Iftitah, peningkatan produktivitas pertanian di kawasan transmigrasi memiliki keterkaitan langsung dengan agenda swasembada pangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut sejalan dengan Asta Cita kedua yang menempatkan kemandirian pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.
Selama ini, petani di Kawasan Transmigrasi Salor umumnya membudidayakan padi varietas Inpari 32 dengan produktivitas sekitar lima hingga enam ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Kendala terbesar muncul ketika memasuki musim tanam ketiga karena curah hujan berkurang, sementara pengaruh air pasang laut turut menyulitkan pengelolaan pertanian.
Varietas IPB 9G menjadi salah satu alternatif yang diuji untuk menghadapi kondisi tersebut. Padi yang dikenal dengan nama IPB 9 Garuda ini dikembangkan sebagai varietas padi gogo untuk lahan kering, tetapi juga mampu dibudidayakan di sawah beririgasi.
Berdasarkan data resmi IPB University, varietas IPB 9G memiliki potensi hasil 9,09 ton per hektare dengan rata-rata produktivitas pengujian sebesar 6,09 ton per hektare pada lahan gogo. Sementara itu, varietas IPB 15S memiliki potensi hasil 10,16 ton per hektare dengan rata-rata produksi dalam pengujian sebelumnya mencapai 8,14 ton per hektare.
Kendati demikian, angka tersebut merupakan hasil pengujian varietas di lokasi lain, bukan capaian panen di Merauke. Perbandingan dengan produksi petani Salor juga harus memperhatikan perbedaan satuan gabah kering panen dan gabah kering giling, sehingga peningkatan produktivitas belum dapat dipastikan sebelum hasil uji lapangan diperoleh.
IPB 9G memiliki umur panen sekitar 110 hingga 113 hari setelah semai berdasarkan keterangan program di Salor. Adapun IPB 15S dapat dipanen dalam rentang 100 hingga 105 hari setelah semai, sehingga berpotensi memberikan pilihan masa tanam yang lebih fleksibel bagi petani.
Kedua varietas tersebut juga menghasilkan beras dengan karakter nasi pulen yang banyak disukai konsumen Indonesia. Selain aspek produktivitas, kualitas beras menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kelayakan suatu varietas untuk dikembangkan secara komersial.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara