REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia terus mendorong realisasi potensi ekonomi syariah untuk menjadi motor dan kekuatan perekonomian nasional. Menempati peringkat keempat ekonomi syariah dunia tidaklah cukup, mengingat Indonesia sangat kaya akan potensi.
Saat memberikan sambutan pada pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 di Jakarta, Rabu (14/10/2026), Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menyampaikan, belanja masyarakat Muslim dunia diproyeksikan mencapai 3,56 triliun dolar AS pada 2029.
Baca Juga- Wamen BAPPENAS Ungkap Makna ESG Sesungguhnya
- BP BUMN Jadikan Sustainability Sebagaj Strategi Bisnis
- Lintas Batas Bahas Transisi Energi
Untuk memanfaatkan peluang tersebut, pemerintah mendorong penguatan industri halal dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perluasan ekspor, serta pengembangan keuangan dan dana sosial syariah. Akses pembiayaan bagi UMKM juga perlu diperluas agar pelaku usaha dapat mengembangkan bisnis dan menjangkau pasar yang lebih besar.
Dradjad juga mengingatkan, ekonomi syariah tak hanya berkaitan dengan aspek agama, tetapi juga mengedepankan prinsip perdagangan yang adil dan dapat diterapkan secara universal.
“Ekonomi syariah itu jangan hanya kita lihat dari sisi agama, tapi sebenarnya pesannya itu adalah universal. Pesan dari ekonomi syariah itu salah satunya adalah fair and just trade antar kita semua,” ujar Dradjad.
Dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia berada di peringkat keempat ekonomi syariah dunia. Sementara itu, rantai nilai halal nasional tumbuh 5,5 persen secara tahunan pada kuartal II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Oleh karena itu, dalam sambutannya pada pembukaan ISEF 2026, Gubernur BI Destry Damayanti mengingatkan posisi Indonesia di tingkat global bukan alasan untuk berpuas diri. Menurut dia, peluang pengembangan ekonomi dan keuangan syariah masih terbuka lebar, terutama melalui perluasan pasar dan pengembangan produk keuangan.
“Jadi kita tentunya, dengan kita melihat skala yang lebih besar, maka peluang dari pengembangan ekonomi keuangan syariah ini akan sangat tinggi sekali,” ujar Destry.
Pentingnya mengubah potensi menjadi kegiatan usaha produktif juga ditekankan Deputi Gubernur BI Solikin M. Juhro saat menutup ISEF di Jakarta International Convention Center (JICC), Ahad (18/10/2026). Menurut dia, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan potensi pasar, tetapi perlu mengembangkannya menjadi kegiatan usaha yang produktif dan berdaya saing.
“Potensi tersebut harus dikonversikan menjadi usaha-usaha yang lebih produktif, berdaya saing dan juga pada akhirnya memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat luas,” ujar Solikin.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo serta tamu undangan VIP menghadiri acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (14/10/2026). Bank Indonesia menyelenggarakan ISEF ke-13 pada 14–18 Oktober 2026 dengan mengusung tema Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital. - (Republika/Prayogi)
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika