REPUBLIKA.CO.ID, Pernah mendengar makian "dasar lelaki mata keranjang"? Ternyata lahirnya istilah tersebut memang karena kelakuan para laki-laki di era Hindia Belanda sebelum kemerdekaan.
Ceritanya, wanita-wanita Indonesia senang bermain bola keranjang, semacam olahraga basket saat ini. Saat itu mereka bermain di Lapangan Singa yang sekarang menjadi Lapangan Banteng dan Lapangan Ikada atau sekarang menjadi Monas.
Baca Juga- Gedung-Gedung Seram Tempat Memuja Setan di Batavia
- Dulu Batavia Surga Buah, Kini Kebun-kebunnya Sudah Musnah
- Gedung-Gedung VOC Dibangun tanpa WC
Setiap pertandingan bola keranjang, meskipun hanya sekadar latihan, penontonnya selalu banyak. Terutama para laki-laki.
Mereka lebih banyak ingin menonton noni-noni mengolah bola dan memasukkannya ke dalam keranjang. Namun, alasan utamanya tentu saja mereka ingin menonton para noni yang mengenakan celana pendek sehingga memperlihatkan paha mereka yang mulus. Dari sinilah muncul istilah "mata keranjang".
Istilah lain yang tak kalah populer adalah 'cuci mata'. Kalau istilah ini lain lagi. Di era itu banyak dibangun kolam renang atau swembad, kata orang Betawi. Seperti di Cikini (kini bagian dari TIM), Manggarai (kini pertokoan Sarinah Jaya), dan Princen Park (Lokasari).
Orang Betawi sekalipun suka berenang di Ciliwung, tapi di antara mereka banyak yang ke swembad. Tapi, gadisnya masih jarang karena tabu memakai pakaian renang seperti gadis Belanda. Hingga ada istilah kala itu pergi ke swembad berarti ”cuci mata”.
Loading... Bagikan: Salin