REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kapal perintis telah mengangkut 9,26 juta penumpang dan 1,59 juta ton barang sepanjang 2015 hingga 2026 untuk melayani mobilitas masyarakat di wilayah kepulauan Indonesia. Dalam periode tersebut, layanan pelayaran perintis merealisasikan 28.564 pelayaran (voyage) guna menghubungkan wilayah yang belum terjangkau secara optimal oleh angkutan laut komersial.
Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kementerian Perhubungan Budi Mantoro mengatakan, pelayaran perintis memiliki peran penting dalam menjaga akses transportasi masyarakat, khususnya di wilayah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan (3TP). Selain mengangkut penumpang, layanan tersebut mendukung distribusi logistik dan ketersediaan barang di berbagai daerah.
Baca Juga- Perkuat Tata Kelola, Menhub Kaji Asesmen Direksi dan Komisaris Perusahaan Pelayaran
- KNKT Minta Regulasi Keselamatan Pelayaran Ditinjau Ulang
“Keberadaan Pelayaran-Perintis menjadi bagian penting dalam memastikan akses transportasi laut tetap tersedia bagi masyarakat di wilayah yang belum dilayani secara optimal oleh angkutan komersial,” ujar Budi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Pada 2026, Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menyelenggarakan 107 trayek kapal perintis penumpang dengan jumlah armada yang sama. Layanan tersebut menjangkau 486 pelabuhan singgah di 184 kabupaten/kota yang tersebar pada 28 provinsi.
Dari total trayek tersebut, sebanyak 54 trayek atau sekitar 51 persen beroperasi di wilayah timur Indonesia. Sementara itu, 41 trayek atau 38 persen melayani wilayah tengah dan 12 trayek atau 11 persen berada di wilayah barat Indonesia.
"Sebaran trayek tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan konektivitas di kawasan timur Indonesia,” ucap Budi.
Menurut Budi, keberadaan kapal perintis tidak hanya memudahkan perjalanan antarpulau, tetapi juga membuka akses masyarakat terhadap berbagai layanan dasar. Kapal perintis menghubungkan wilayah kepulauan dengan pusat pemerintahan, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan pasar.
“Yang diangkut kapal perintis bukan hanya penumpang dan barang, tetapi juga akses masyarakat terhadap pusat pemerintahan, pendidikan, layanan kesehatan, pasar, dan wilayah lainnya,” kata Budi.
Selain angkutan penumpang, program angkutan perintis barang atau Tol Laut mencatat 557 pelayaran hingga semester I 2026. Layanan tersebut menjangkau 100 pelabuhan dari wilayah barat hingga timur Indonesia.
Realisasi muatan berangkat mencapai 21.762 twenty-foot equivalent units (TEUs) dan 1.682,42 ton barang. Sementara itu, muatan balik tercatat sebanyak 6.660 TEUs.
Adanya muatan balik menunjukkan aktivitas pengangkutan barang tidak hanya berlangsung dari pusat distribusi menuju wilayah tujuan. Barang dari daerah juga dapat diangkut melalui jaringan Tol Laut sehingga pemanfaatan kapasitas kapal menjadi lebih optimal.
“Penguatan konektivitas penumpang harus berjalan beriringan dengan penguatan konektivitas logistik. Dengan distribusi barang yang semakin efektif, kita berharap ketersediaan kebutuhan masyarakat dapat terjaga dan disparitas harga antarwilayah dapat ditekan,” ujar Budi.
Layanan angkutan rede juga melengkapi konektivitas laut untuk perjalanan antarpulau jarak dekat. Layanan tersebut menjangkau 56 pelabuhan singgah di 25 kabupaten/kota pada 11 provinsi.
Realisasi angkutan rede tercatat mencapai 411 perjalanan dengan jumlah penumpang naik dan turun sebanyak 32.526 orang. Layanan ini digunakan untuk mendukung mobilitas masyarakat di wilayah kepulauan dan pesisir serta distribusi logistik lokal.
Kementerian Perhubungan selanjutnya akan mengoptimalkan penyelenggaraan angkutan perintis barang, termasuk melalui penyesuaian mekanisme subsidi pada sejumlah pelabuhan. Penyesuaian tersebut dilakukan untuk meningkatkan efisiensi anggaran dan efektivitas distribusi logistik.
Pengembangan jaringan pelayaran perintis juga akan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan karakteristik setiap wilayah. Aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan, keterjangkauan, dan kualitas pelayanan tetap menjadi perhatian dalam penyelenggaraan layanan transportasi laut tersebut.
Ikuti Whatsapp Channel Republika