REPUBLIKA.CO.ID, KARANGANYAR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Lawu meluas. Luas lahan yang terdampak dari sebelumnya 100 hektare, kini sudah mencapai 230 hektare.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan, titik api di lereng Gunung Lawu sebenarnya sudah sempat berkurang. “Sore atau malam kemarin ada 10 (titik api). Hari ini berdasarkan data SiPongi ada 36 titik,” katanya ketika dihubungi, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga- Karhutla Landa Kawasan Gunung Sumbing, 152 Pendaki Dievakuasi
- Singapura Bakal Tindak Perusahaan di Balik Asap Karhutla
- Kapolri Ungkap Dugaan Keterlibatan Perusahaan Asing dalam Karhutla Indonesia, Ada dari Tetangga
Menurut Bergas, salah satu penyebab meluasnya titik api adalah embusan angin yang cukup kuat. “Saat ini luasan terbakar dan bekas terbakar 230 hektare. Ini termasuk yang masih menyala,” ucapnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar diketahui telah menetapkan status tanggap darurat untuk karhutla di lereng Gunung Lawu pada Sabtu (17/10/2026). Setelah penetapan tersebut, unsur-unsur pemerintah pusat turut dikerahkan guna memadamkan kebakaran di sana.
Bergas mengungkapkan, pada Senin (19/10/2026) lalu, upaya water bombing untuk memadamkan karhutla di lereng Gunung Lawu sudah dilaksanakan. Dua helikopter TNI, yakni Super Puma dan Mi-17, dikerahkan untuk melaksanakan operasi tersebut.
Namun Bergas menyebut, operasi water bombing turut menghadapi kendala, terutama terkait visibilitas. Selain bubungan asap karhutla, awan tebal turut menyusutkan jarak pandang.
“Kemarin rencana melaksanakan empat sorti (water bombing), tapi yang dilakukan hanya tiga. Hari ini mau dilakukan dua sorti, tapi karena terkendala cuaca, angin kencang, dan ketebalan awan, jadi baru dilaksanakan dua,” ucap Bergas.
Dia mengungkapkan, upaya pemadaman lewat darat juga masih dilakukan. Setidaknya 70-an personel gabungan diterjunkan ke lapangan. Namun Bergas menyebut, pemadaman darat turut menghadapi tantangan karena sejumlah titik api berada di lembah dan tebing yang cukup curam.
Bergas menerangkan, titik api di lereng Gunung Lawu mulai terdeteksi pada 15 Oktober 2026. Selama dua hari berikutnya, api menjalar dan membakar area yang lebih luas. Setidaknya 400 personel gabungan, termasuk TNI-Polri, dikerahkan untuk melakukan pemadaman menggunakan alat semprot manual. “Luas lahan yang terbakar kurang lebih 100 hektare,” ujar Bergas ketika diwawancara pada Senin (19/10/2026).
Lihat postingan ini di InstagramIkuti Whatsapp Channel Republika