REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan kerap menjadi batu sandungan dalam pemerataan akses digital. Menjawab persoalan klasik ini, Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) dan Asosiasi Internet of Things Indonesia (ASIOTI) mengambil langkah taktis.
Melalui inisiatif kolaborasi yang dilaksanakan dalam forum internasional BATIC 2026. kedua asosiasi resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk mengawinkan infrastruktur satelit dengan perangkat cerdas Internet of Things (IoT). Kolaborasi lintas sektor ini diorientasikan untuk menembus batas-batas terestrial, menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), sekaligus mendongkrak efisiensi korporasi di
Baca Juga- MyRepublic Air Rayakan Kemerdekaan, Promo Internet 5G FWA Rp 170.845 untuk 2 Bulan
- Merdeka Internetan! MyRepublic Fiber Tebar Promo Spesial Rp 17.845 untuk Koneksi tanpa Batas
- Arthatel dan AGP Edukasi Anak Tentang Internet Cerdas, Aman, dan Bertanggung Jawab
berbagai sektor vertikal seperti pertanian modern, maritim, dan logistik.
Dewan Pengawas ASSI, Budi Satria Dharma Purba, memandang bahwa lanskap telekomunikasi nasional sudah darurat konvergensi. Menurutnya, satelit tidak lagi bisa diposisikan sekadar sebagai cadangan (fallback option), melainkan sebagai tulang punggung utama ekspansi ekonomi digital.
"Selama ini ekspansi industri terkendala oleh mahalnya pembangunan infrastruktur kabel optik atau seluler di wilayah remote. Dengan mengintegrasikan jaringan satelit, perangkat IoT di sektor perkebunan, pertambangan, hingga maritim dapat mengirimkan data secara real-time tanpa batasan wilayah. Ini bukan sekadar proyek teknologi, tapi strategi besar untuk meratakan roda ekonomi nasional secara inklusif sekaligus mencetak talenta lokal yang siap menghadapi konvergensi dirgantara," ujar Budi Satria.
"Bagi kami, interoperabilitas bukan sekadar urusan teknis menyambungkan protokol data, melainkan bagaimana kita meruntuhkan sekat-sekat industri. Kami ingin memastikan perangkat IoT apa pun yang dibuat anak bangsa bisa langsung 'bernapas' begitu dilepas di wilayah terpencil berkat dukungan satelit," kata Budi Satria.
Pilar kedua tentang Keamanan Siber meletakkan fondasi kepercayaan publik dan korporasi melalui pengamanan data berlapis. Mengingat perangkat IoT kerap mengalirkan data vital nasional, mulai dari logistik strategis hingga parameter lingkungan dan pertahanan, protokol enkripsi dari ujung sensor di lapangan hingga ke pusat data (end-to-end data security) menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.
Budi Satria menjelaskan jika infrastruktur paling canggih di dunia pun akan mandek jika tidak dioperasikan oleh tangan-tangan yang tepat. "Melalui program pembinaan talenta lintas disiplin ini, kita sedang
menyiapkan generasi insinyur masa depan yang fasih berbicara tentang teknologi luar angkasa sekaligus cerdas merancang solusi di bumi," ujar dia.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika