Nasional

Kebiasaan Doomscrolling Bikin Otak Alami Helicopter Brain, Apa Itu?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebiasaan doomscrolling yaitu terus-menerus menggulir konten atau informasi yang memicu emosi negatif dan stres, telah dikaitkan dengan peningkatan kecemasan. Namun bagi sebagian orang, kebiasaan ini juga dapat...

13 Oktober 2026, pukul 05:42 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebiasaan doomscrolling yaitu terus-menerus menggulir konten atau informasi yang memicu emosi negatif dan stres, telah dikaitkan dengan peningkatan kecemasan. Namun bagi sebagian orang, kebiasaan ini juga dapat memicu seseorang mengalami helicopter brain. Lantas, apa itu helicopter brain?

Dokter spesialis saraf di Mount Sinai Medical Center, dr Steven Resnick, menggunakan istilah helicopter brain untuk menggambarkan sistem saraf yang terus-menerus berada dalam kondisi siaga tinggi. Menurut dia, kelebihan informasi, stimulasi berlebihan, dan ketidakpastian dapat membuat otak terus berada dalam kondisi siaga tinggi sehingga mengaktifkan saraf otonom.

Baca Juga

"Saraf otonom berperan mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis. Otak terus memindai kemungkinan adanya bahaya. Ketika otak memindai bahaya, sistem saraf otonom akan menekan pedal gas," kata Resnick dilansir laman Fox News, Senin (12/10/2026).

la mengaku kerap menemui pasien dengan berbagai keluhan fisik yang sulit dijelaskan. Gejala tersebut meliputi sakit kepala, gangguan pencernaan, kelelahan, masalah tidur, sensasi kesemutan, hingga pusing.

Dalam sejumlah kasus, pasien bahkan menjalani pemeriksaan oleh beberapa dokter spesialis sebelum menemukan kemungkinan penjelasan atas keluhan yang dialami. "Mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka rasakan itu nyata dan benar-benar terjadi, sistem saraf merekalah yang sebenarnya sedang aktif," kata dia.

la kemudian mengungkap sejumlah tanda dan strategi mengatasi helicopter brain. Simak rinciannya sebagai berikut:

1. Kenali perasaan yang muncul

Langkah pertama adalah mengenali perasaan yang dialami, seperti takut, cemas, khawatir, atau waswas. Setelah itu, cobalah untuk terbuka dan mengungkapkannya kepada keluarga, teman, dokter atau psikolog. Ketika seseorang merasa didengarkan, aman, dan terhubung dengan orang lain, sistem saraf dapat mulai menjadi lebih tenang.

"Sering kali tidak semua persoalan bisa langsung diselesaikan. Meski demikian, seseorang dapat mulai merasa lebih baik seiring berjalannya waktu," kata Resnick.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait