JAKARTA -- Fenomena penurunan gaya hidup atau yang kini populer dengan istilah downgrade lifestyle sedang menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Perubahan pola konsumsi ini ditandai dengan keputusan untuk mengurangi pengeluaran, beralih ke produk dengan harga yang lebih terjangkau, hingga menunda berbagai kebutuhan yang tidak mendesak.
Fenomena ini dinilai bukan sekadar urusan memilih barang yang lebih murah, melainkan potret dinamika ekonomi yang tengah bergejolak di tingkat rumah tangga, khususnya pada kelompok masyarakat kelas menengah. Pakar perilaku konsumen dari IPB University, Prof Megawati Simanjuntak, mengatakan keputusan untuk memangkas atau mengalihkan anggaran belanja merupakan mekanisme alamiah yang diambil sebuah keluarga agar dapat bertahan di tengah situasi keuangan yang menantang.
Baca Juga- Di Balik Fenomena Gaya Hidup Downgrade, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
- Viral! Wisudawati Sisipkan Bendera Palestina di Balik Toga Kelulusan
- Kisah Tragis Pilot Muda Nathalia Gadelha Filgueiras dan Kokpit Terakhirnya
"Dalam kajian ilmu keluarga dan konsumen, ini disebut strategi koping, yaitu cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap bertahan. Berhemat dan mengganti produk dengan yang lebih murah merupakan bagian dari upaya tersebut, selain mencari tambahan penghasilan," kata Prof Megawati dalam keterangannya di Bogor, Jawa Barat, Rabu (4/11/2026).
Ada hal menarik dari gelombang downgrade lifestyle yang terjadi belakangan ini. Prof Megawati mengamati dua fenomena unik. Pertama, perilaku penyesuaian anggaran ini kini justru marak dilakukan oleh kelompok kelas menengah, sebuah kelompok sosial yang selama ini kerap dianggap relatif aman secara finansial.
Kedua, jika pada masa lalu perubahan gaya hidup ke arah yang lebih hemat cenderung disembunyikan karena alasan gengsi, kini masyarakat justru membicarakannya secara terbuka di media sosial. Bahkan, pilihan untuk hidup lebih hemat tersebut kerap diolah menjadi konten yang relatable dan mendapat banyak respons positif.
"Dulu, mengganti kopi kafe dengan kopi saset mungkin cukup disimpan sendiri. Sekarang, justru diceritakan,” kata dia.
Meski demikian, terdapat latar belakang yang berbeda di balik keputusan seseorang melakukan downgrade lifestyle. Prof Megawati menilai fenomena yang terjadi pada sebagian besar kelas menengah saat ini cenderung dipicu oleh keterpaksaan. Penyebab utamanya adalah laju pertumbuhan pendapatan yang stagnan, sementara harga kebutuhan pokok terus merangkak naik dan beban cicilan bulanan menyita porsi keuangan yang cukup besar.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara