Nasional

Kiai Said Aqil Sirodj Luncurkan Buku Historiografi Islam Nusantara 11 Jilid

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) meluncurkan buku "Historiografi Islam Nusantara" yang ditulis Prof KH Said Aqil Siroj dan Imam Pituduh. Buku tersebut mengulas perjalanan panjang Islam di...

17 Oktober 2026, pukul 22:52 WIB · dibaca 1 kali

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) meluncurkan buku "Historiografi Islam Nusantara" yang ditulis Prof KH Said Aqil Siroj dan Imam Pituduh. Buku tersebut mengulas perjalanan panjang Islam di Nusantara serta kontribusinya dalam membentuk peradaban Indonesia.

Ketua Umum LPOI yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), KH Said Aqil Siroj mengatakan, memahami Islam Nusantara tidak cukup hanya dengan menelusuri kedatangan Islam dan tokoh-tokoh penyebarnya. Lebih dari itu, diperlukan pemahaman tentang bagaimana Islam berinteraksi dengan kebudayaan lokal, membentuk institusi sosial, dan mengembangkan jaringan pengetahuan.

Baca Juga

“Memahami Islam Nusantara tidak cukup hanya dengan menelusuri kapan Islam datang, siapa yang menyebarkannya, atau bagaimana ajaran Islam berkembang di berbagai wilayah,” ujar Kiai Said dalam siaran persnya, Sabtu (17/10/2026). 

Dalam peluncuran dan bedah buku "Historiografi Islam Nusantara" di Surabaya, Kiai Said menegaskan bahwa Islam memiliki peran penting dalam perjalanan pembentukan peradaban Indonesia. Kontribusi tersebut dapat ditelusuri melalui perkembangan pendidikan, perdagangan, hukum, diplomasi, bahasa, sastra, kebudayaan, hingga berbagai institusi sosial dan politik.

Pengunjung membaca buku di perpustakaan Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (25/2/2026). Aktivitas menunggu waktu berbuka atau ngabuburit dapat dilakukan masyarakat di perpustakaan masjid istiqlal dengan beragam sumber bacaan mulai dari buku-buku pengetahuan umum hingga referensi kitab dan buku keagamaan. Perpustakaan Masjid Istiqlal tersebut menyediakan sebanyak 70 persen buku bacaan tentang keagamaan seperti kitab tafsir, buku sosial budaya islam, sejarah islam hingga ensiklopedia Nabi Muhammad SAW. - (Republika/Thoudy Badai)

Dia menjelaskan, "Historiografi Islam Nusantara" disusun untuk mengajak masyarakat memahami sejarah Islam sebagai ruang kajian ilmiah yang dinamis dan terbuka terhadap beragam perspektif. Penulisan sejarah, kata dia, perlu terus berkembang seiring dengan ditemukannya sumber-sumber baru dan penggunaan pendekatan penelitian yang beragam.

Menurut dia, perbedaan penafsiran dalam sejarah Islam Nusantara merupakan bagian dari dinamika kajian ilmiah. Perbedaan itu dapat muncul karena penggunaan sumber, metode, perspektif, dan kerangka analisis yang tidak sama.

Kiai Said menambahkan, organisasi Islam modern, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, turut memperlihatkan bahwa kehidupan Islam di Indonesia tidak terbatas pada praktik ritual keagamaan. Organisasi-organisasi tersebut berperan dalam pendidikan, pelayanan masyarakat, pemikiran keagamaan, dan perubahan kehidupan publik.

Dalam penulisan sejarah, organisasi Islam juga perlu ditempatkan sebagai subjek aktif yang menghasilkan pengetahuan dan menyimpan memori kolektif. Pengalaman sejarahnya dapat ditelusuri melalui dokumen, arsip, manuskrip, catatan organisasi, hingga kesaksian lisan.

“Pengembangan historiografi Islam Nusantara merupakan upaya memperluas sumber, perspektif, dan pelaku dalam penulisan sejarah Indonesia,” ucap Musytasyar PBNU tersebut. 

Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Jakarta ini menegaskan, penulisan sejarah Islam Nusantara bukan bertujuan membangun narasi apologetik atau mengunggulkan kelompok tertentu. Sebaliknya, kajian tersebut diharapkan mampu menempatkan masyarakat Muslim Nusantara sebagai pelaku sejarah yang aktif, kreatif, dan memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan peradaban.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait