REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa konsumsi pemerintah menjadi salah satu motor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026. Realisasi konsumsi pemerintah tercatat melonjak signifikan sebesar 8,95 persen, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Pada dua kuartal ini, yakni triwulan II dan III, belanja pemerintah ditingkatkan. Belanja tersebut menjadi bagian dari konsumsi melalui program-program unggulan pemerintah, termasuk MBG dan KDKMP," kata Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Angka pertumbuhan konsumsi pemerintah tersebut mengalami akselerasi jika dibandingkan dengan capaian triwulan III tahun sebelumnya yang hanya sebesar 5,66 persen. Selain konsumsi pemerintah, pertumbuhan ekonomi nasional juga ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,04 persen.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen utama dalam menopang aktivitas perekonomian dengan kontribusi sebesar 51,97 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen pada triwulan III-2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan II-2026 sebesar 5,29 persen.
Kinerja Sektor Industri dan Konstruksi
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan yang memiliki kontribusi terbesar terhadap PDB, yakni 19,22 persen, tumbuh 5,87 persen. Pertumbuhan industri tersebut didukung oleh sejumlah subsektor, antara lain industri makanan dan minuman yang tumbuh 7,09 persen, kimia dan farmasi 8,10 persen, logam dasar 9,94 persen, serta alat angkutan dan otomotif 6,14 persen.
Airlangga menambahkan bahwa proyek prioritas pemerintah turut mendorong aktivitas ekonomi pada sektor konstruksi yang tumbuh 6,42 persen. Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP) dan Sekolah Rakyat menjadi bagian dari kegiatan yang mendukung pertumbuhan sektor tersebut.
Prospek dan Optimisme ke Depan
Ke depan, pemerintah memperkirakan momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga pada triwulan IV-2026. Optimisme tersebut didukung sejumlah indikator ekonomi, salah satunya indeks manajer pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 yang berada di level 54,0, meningkat dibandingkan September 2026 sebesar 52,4.
Airlangga menjelaskan PMI manufaktur tersebut menunjukkan aktivitas industri berada dalam fase ekspansi dan mencapai level tertinggi sejak Maret 2026. "Selain itu, Indeks Kepercayaan Industri yang disusun Kementerian Perindustrian tercatat sebesar 53,77. Penjualan listrik juga meningkat 9,21 persen, sedangkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap berada pada level optimistis sebesar 118,1," katanya.
Meski demikian, Airlangga tetap mencermati sejumlah risiko yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat, terutama tekanan harga pangan dan energi serta dinamika nilai tukar rupiah. "Capaian pertumbuhan sebesar 5,47 persen ini menunjukkan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah, dipimpin Bapak Presiden Prabowo, sudah berada di jalur yang tepat dengan fundamental yang kuat dan investasi yang terus meningkat. Dukungan kebijakan yang terarah akan terus dijalankan, meskipun masih terdapat berbagai tantangan yang perlu diselesaikan," pungkas Airlangga.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : antara