Nasional

Menjaga dan Melestarikan Kemabruran Haji

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr. Rahmat Hidayat, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pengasuh Ponpes Madinatur Rahmah, Tenjo-BogorSetelah selesai melaksanakan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci Makah, para jamaah haji ada...

17 Juni 2026, pukul 07:21 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr. Rahmat Hidayat, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pengasuh Ponpes Madinatur Rahmah, Tenjo-Bogor

Setelah selesai melaksanakan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci Makah, para jamaah haji ada yang mulai kembali ke tanah air (negara) masing-masing,  terutama bagi gelombang pertama dan ada yang melanjutkan perjalanan ke Madinah untuk memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi serta berziarah ke Makam Rasulullah SAW. Setelah menyelesaikan prosesi ibadah haji, para tamau Allah (dhuyufurrahman) mendapatkan gelar (panggilan) baru: "Haji" atau "Hajjah". Namun, pertanyaan terbesar yang harus dihadapi setiap insan yang baru pulang melaksanakan ibadah haji bukanlah "sudah berapa kali Anda berhaji?", melainkan "apakah haji Anda mabrur, dan mampukah Anda menjaganya?"

Baca Juga

Memahami hakikat haji mabrur menjadi langkah awal yang sangat penting. Secara bahasa, kata "mabrur" berasal dari al-birr yang berarti kebaikan atau kebajikan. Imam An-Nawawi menjelaskan haji mabrur adalah haji yang tidak disertai dengan dosa (alladzi la yartakibu shahibuhu ma’shiatan), tidak tercampur dengan kemaksiatan, serta pelakunya menunaikan seluruh rukun, syarat, dan adabnya dengan ikhlas dan benar. Para ulama mempertegas bahwa haji mabrur adalah haji yang dipenuhi seluruh ketentuannya dan dijalankan dengan sesempurna mungkin oleh pelakunya.

Rasulullah SAW menegaskan keutamaan haji mabrur dalam sabda beliau: "Al-hajjul mabruru laisa lahu jaza'un illal jannah" (Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga). Bayangkan, satu ibadah yang balasannya langsung surga, inilah yang membuat setiap muslim mendambakan predikat mabrur pada hajinya.

Hakikat dan Hikmah Haji Mabrur

Setiap jamaah yang berhaji tentu berharap mendapatkan haji mabrur. Namun, Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin mengajarkan bahwa inti haji bukan semata ritual manasik yang dilakukan dengan baik di Makkah dan Madinah. Hakikat haji mabrur yang sesungguhnya adalah bagaimana pasca ibadah haji, yaitu  seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dalam ibadahnya, lebih rendah hati, lebih peduli kepada sesama, dan semakin bersih dari ketergantungan duniawi. 

Hasan al-Bashri memberikan definisi yang sangat mendalam: Haji mabrur adalah ketika pelakunya pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat. Imam al-Munawi kemudian menyimpulkan dengan praktis: tanda diterimanya haji adalah ia pulang menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak kembali mengulangi maksiat.

Dengan demikian, hikmah dari haji mabrur tidak hanya bersifat personal namun juga sosial. Secara personal, haji mabrur membersihkan hati (tazkiyatun nafs), menumbuhkan kesadaran spiritual yang lebih tinggi, dan mendidik mental seseorang dalam mengarungi kesulitan hidup. Secara sosial, haji menjadi sarana bagi umat dari berbagai penjuru dunia untuk saling mengenal, menghormati satu sama lain (tasamuh), serta menumbuhkan solidaritas dan persatuan yang kuat.

Loading... Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Lihat di situs asli

Berita terkait