Nasional

Menteri Ekraf Soroti Potensi Global Karya Lokal Lewat Gadis Kretek

JAKARTA -- Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyoroti potensi karya sastra Indonesia untuk berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang menjangkau pasar global. Salah satu contohnya adalah serial Gadis...

27 Oktober 2026, pukul 07:29 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA -- Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyoroti potensi karya sastra Indonesia untuk berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang menjangkau pasar global. Salah satu contohnya adalah serial Gadis Kretek yang diadaptasi dari novel karya Ratih Kumala.

Pesan tersebut disampaikan Teuku Riefky dalam acara welcoming dinner World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Akasta, Jakarta, Rabu (21/10) malam. Dalam acara itu, ia mengenakan busana yang terinspirasi dari serial Gadis Kretek, yakni kebaya janggan dan beskap.

“Ini menjadi contoh bagaimana karya sastra lokal dapat menjangkau pasar global dan berkembang menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi,” ujar Teuku Riefky dalam sambutannya.

Menurut dia, potensi ekonomi kreatif tidak hanya terdapat pada film atau serial. Kolaborasi sastra dengan produksi audiovisual, desain busana, seni pertunjukan, musik, dan subsektor lainnya dapat memperluas nilai sebuah karya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pelaku kreatif.

Jamuan makan malam tersebut menjadi bagian dari rangkaian penyambutan delegasi WCCE 2026. Acara itu dihadiri para menteri, duta besar, anggota International Steering Committee, pembicara, pelaku kreatif, mitra, serta peserta dari berbagai negara.

Teuku Riefky mengapresiasi partisipasi para delegasi dalam pertemuan Friends of Creative Economy dan kunjungan ke Creativillage yang berlangsung pada hari yang sama. Ia menilai kolaborasi menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang kuat dan inklusif.

Menurutnya, karya yang mampu menjangkau pasar global lahir dari pertemuan berbagai talenta, gagasan, komunitas, dan bidang usaha.

WCCE 2026 memasuki agenda pleno dan pertemuan tingkat menteri pada hari berikutnya. Mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”, konferensi edisi kelima ini diharapkan menjadi ruang bagi negara-negara dan para pemangku kepentingan untuk membangun kesepahaman dan merumuskan arah pengembangan ekonomi kreatif global.

Lihat di situs asli

Berita terkait