JAKARTA — Danantara Indonesia resmi membuka Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Fairmont Jakarta, Senin (26/10/2026). Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, forum ini menjadi platform strategis yang menghubungkan prioritas industri nasional dengan teknologi, keahlian global, serta modal jangka panjang untuk memperkuat transformasi industri Indonesia.
"Mengusung tema 'Investing in Tomorrow: Advancing Technology, Innovation, and Sustainable Growth', DTIIF 2026 menghadirkan lebih dari 1.500 peserta, termasuk inovator global, pemimpin perusahaan teknologi, pusat riset dan inovasi, BUMN, investor, ilmuwan, serta mitra strategis dari Indonesia dan berbagai negara," kata Rosan. Ia menyampaikan, hari pertama DTIIF 2026 mengangkat tema Imagine-Seeing the Frontier, yang membahas perkembangan teknologi global, sumber pertumbuhan baru, arah pembangunan industri Indonesia, serta peran investasi dalam menjembatani inovasi teknologi dan penerapannya di sektor industri.
Baca Juga- Danantara Ungkap Keseriusan Investasi di Industri Tekstil, Ini yang Diincar
- Danantara Bidik Mitra Global untuk Bangun Industri Hilir Nikel di Indonesia
- Danantara Restrukturisasi Besar-besaran 1.074 BUMN
"Melalui DTIIF, kami memiliki tiga ambisi utama. Pertama, memperkuat kemitraan yang mendukung transformasi ekonomi dan industri Indonesia dalam jangka panjang," ujar Rosan dalam acara DTIIF 2026 di Hotel Fairmont, Senin (26/10/2026).
Kedua, lanjut Rosan, menggerakkan modal dan keahlian global untuk mengembangkan proyek-proyek strategis menjadi peluang investasi yang terukur. Ketiga, memastikan berbagai kolaborasi dan dialog menghasilkan inisiatif konkret yang berkelanjutan.
Pada hari yang sama, Danantara Indonesia menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) bersama Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Perindustrian, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Rosan mengatakan, MoU lintas kementerian bertujuan memperkuat sinergi nasional dalam menghubungkan agenda riset, pengembangan talenta, kebutuhan industri, mekanisme pendanaan, dan peluang investasi strategis.
"Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat pemanfaatan dan hilirisasi hasil riset dan inovasi, memperkuat kapabilitas teknologi industri, serta meningkatkan daya saing nasional menuju ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Rosan.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan, Presiden Prabowo Subianto bercita-cita agar Indonesia mampu menciptakan, menguasai, dan memproduksi teknologi sendiri. Brian mengatakan, Indonesia harus mampu mengoptimalkan sumber daya alam dalam mendorong peningkatan teknologi dalam negeri.
"Hal ini menjadi kunci untuk menciptakan produktivitas yang lebih tinggi, industri yang lebih kuat, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Brian.
Agenda hari pertama juga menghadirkan beragam perspektif ekonomi, teknologi, industri, dan investasi dari Peraih Nobel Ekonomi 2025 Peter Howitt dan Peraih Nobel Ekonomi 2011 Thomas J Sargent. Selain itu, acara ini dihadiri oleh perwakilan lembaga internasional, regulator, inovator, serta perusahaan pemimpin industri global.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika