REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG - Persaingan produk di pasar global tidak lagi hanya ditentukan oleh harga, mutu, dan kemampuan produksi. Asal energi yang dipakai dalam proses industri ikut diperhitungkan. Produk yang dihasilkan dengan energi bersih dinilai lebih berpeluang lebih besar diterima pasar dengan nilai yang lebih tinggi.
Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat mewakili Presiden RI Prabowo Subianto membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, Rabu (14/10/2026).
Baca Juga- Serangan Rudal Houthi Menhaj Pastikan Penerbangan Jamaah Umroh Tetap Aman
- Polisi Tetapkan Lima Tersangka Pengeroyokan Petani Hingga Tewas Saat Mabuk Miras di Indramayu
- Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Melalui IT Bitung Dorong Kemandirian Penyandang Disabilitas
"Produk global sekarang itu akan lebih cenderung untuk mencari produk yang green energy dan green industry. Itu nilainya pasti jauh lebih tinggi ketimbang produk-produk yang dihasilkan daripada energi fosil,"ujar Bahlil lewat keterangan tertulis, Kamis(15/10/2026).
Bahlil menegaskan, transisi energi harus menjadi bagian dari strategi industrialisasi dan peningkatan daya saing produk nasional.
Arah tersebut telah tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034. Pemerintah merencanakan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan sekitar 42,6 GW atau 61 persen di antaranya bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT). Rencana ini membuka potensi investasi hingga Rp 2.967,4 triliun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia. - (Dok Republika)
Pemerintah juga mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 GW yang terintegrasi dengan jaringan dan sistem penyimpanan energi. Pengembangan ekosistem baterai serta bioenergi melalui penerapan B50 dan E20 turut disiapkan untuk mengurangi impor energi sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.
Manfaatnya tidak hanya bagi lingkungan. Pengembangan energi surya diproyeksikan memberi penghematan sekitar Rp 73,9 triliun per tahun dan membuka 5,5 juta lapangan kerja. Pengembangan bioenergi berpotensi menghemat devisa Rp170 triliun dan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.
"Kalau ini mampu kita lakukan, Bapak-Ibu semua, saya yakin Indonesia menjadi salah satu negara yang patut diperhitungkan untuk ekspor yang berkualitas dan juga mampu memberikan daya saing yang baik di mata dunia," kata Bahlil.
Sinergi antara hilirisasi dan energi bersih diharapkan membawa Indonesia melangkah dari pemasok bahan mentah menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi. Dengan pasokan energi yang andal dan rendah emisi, produk industri Indonesia diharapkan makin kompetitif di pasar internasional.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara