REPUBLIKA.CO.ID, GAZA— Dalam upaya menciptakan kekacauan, memecah belah masyarakat Palestina dari dalam, dan menghindari pengerahan tentaranya ke jantung Jalur Gaza, Israel sejak paruh kedua tahun 2024 disebut berupaya merekrut sejumlah besar warga Gaza untuk bekerja dalam milisi-milisi yang beroperasi demi kepentingannya di wilayah tersebut.
Melalui kelompok-kelompok bersenjata yang mulai muncul di Kota Rafah, Gaza selatan, setelah wilayah itu diduduki pada Juni 2024, Israel diduga melaksanakan berbagai operasi penculikan dan pembunuhan.
Baca Juga- Gagalnya Kemenangan Mutlak Netanyahu yang Merugikan Militer Israel
- Ilusi Perang Irak, Suriah, Lebanon, dan Iran: Hentikan Segera Israel Raya Jika Ingin Dunia Damai
- Hubungan Memanas, AS Waspadai Spionase Intelijen Israel hingga Level Membahayakan
Aksi tersebut menargetkan para pemimpin kelompok perlawanan, jurnalis, dan dokter. Informasi tersebut diperoleh Aljazeera,dikutip Senin (24/6/2026) dari dua orang yang pernah menjadi anggota milisi tersebut.
Menurut kesaksian kedua orang itu, milisi-milisi tersebut merekrut warga Gaza dengan menjanjikan kehidupan yang lebih baik dan sejahtera, sangat berbeda dengan kondisi yang dialami penduduk Gaza akibat blokade Israel.
Namun, pada kenyataannya, Israel tidak benar-benar menyediakan kehidupan yang mudah bagi mereka yang bekerja sama dengannya.
Sebaliknya, Israel memanfaatkan kebutuhan warga Palestina terhadap makanan dan obat-obatan sebagai sarana perekrutan.
Menurut pakar urusan Israel, Dr Muhannad Mustafa, praktik seperti itu bukanlah hal baru karena sejarah pendudukan Israel dipenuhi dengan berbagai bentuk pemerasan dan tekanan.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika