REPUBLIKA.CO.ID, KEDIRI– Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, KH Fahim Royani, menerima kunjungan silaturahim Gus Hery Haryanto Azumi bersama timnya, Sabtu (20/6/2026).
Pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh keakraban tersebut menjadi bagian dari rangkaian silaturahim kebangsaan dan ke-NU-an menjelang pelaksanaan Kombes dan Musyawarah Nasional Ulama yang akan digelar di lingkungan Pondok Pesantren Al Falah Ploso.
Baca Juga- Ini yang Terjadi dalam Pemerintahan Israel Setelah Kesepakatan Damai AS dan Iran
- Mengapa Washington dan Teheran Percepat Teken Kesepakatan Sebelum Jadwal Resmi?
- Rakyat Israel Marah Desak Netanyahu Mundur Akibat Gagal Perangi Iran, Hamas, dan Hizbullah
Rombongan Gus Hery dipimpin oleh Dr Fadli Yasir, serta didampingi sejumlah tokoh dan akademisi muda NU, di antaranya Dr M Khozin, Dr Eng Akhmad Khusyairi, Coach Syarief, Adri MSi, Syaiful Anwar SE, Waki Ats Tsaqofi, dan beberapa kader NU lainnya.
Di hadapan para tamunya, Gus Fahim mengaku sangat senang menerima kunjungan para intelektual dan kader NU yang berasal dari berbagai perguruan tinggi ternama di dalam maupun luar negeri.
Menurutnya, kehadiran kader-kader NU yang memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, dan jaringan global merupakan aset penting bagi masa depan Nahdlatul Ulama.
Pertemuan tersebut juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi NU menjelang Muktamar ke-35, termasuk harapan besar warga Nahdliyin terhadap lahirnya kepemimpinan baru yang mampu membawa organisasi memasuki abad kedua dengan lebih progresif dan berdaya saing.
Gus Fahim mengungkapkan bahwa selama ini dirinya sering merenungkan sosok yang tepat untuk memimpin PBNU pada periode mendatang.
Menurutnya, NU membutuhkan figur yang tidak hanya berakar kuat dari tradisi pesantren, tetapi juga memiliki kemampuan memahami persoalan kebangsaan dan global secara komprehensif.
"Terus terang, saya sangat bersyukur dan berbahagia atas kehadiran Gus Hery bersama tim yang luar biasa ini. Di tengah harapan besar kami tentang siapa yang akan memimpin NU ke depan, kehadiran Gus Hery menjadi jawaban yang menyejukkan,” tutur dia.
Dia menyebut, NU membutuhkan pemimpin yang lahir dari tradisi santri, memahami pesantren, tetapi sekaligus mengerti politik, ekonomi, hubungan internasional, perkembangan teknologi, dan memiliki jejaring global yang kuat.
“Yang paling penting, semua itu diniatkan untuk kemajuan NU dan kemaslahatan nahdliyin," ujar Gus Fahim.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika