REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seekor orangutan betina berusia sekitar 20 tahun berhasil diselamatkan dari kawasan hutan dan lahan yang hangus terbakar di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Penyelamatan pada Rabu (14/10/2026) itu menambah jumlah orangutan yang dievakuasi dari kawasan terdampak kebakaran sejak Agustus menjadi empat individu, sementara petugas masih memantau lima lokasi lain yang dilaporkan menjadi tempat kemunculan satwa dilindungi tersebut.
Orangutan yang kemudian diberi nama Ira itu ditemukan di kawasan Gang Sahabat, Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9, jalur Sampit-Palangka Raya. Kondisi vegetasi yang rusak akibat kebakaran diduga memaksanya bergerak mencari sumber makanan hingga memasuki kawasan perkebunan masyarakat.
Baca Juga- PNBP Imigrasi Tembus Rp8,68 Triliun, Lampaui Target 2026
- Minta Netanyahu Ratakan Gaza, Restoran Anti Halal Dihujani Ulasan Negatif, Dapat Bintang Satu Google
- Don Ritto: Emas 74 Kg Bukan Milik Febrie, Tapi untuk Kegiatan Sosial Keagamaan
Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit, Muriansyah, mengatakan operasi penyelamatan melibatkan BKSDA Kalimantan Tengah, Orangutan Foundation International (OFI), dan Komunitas Animal Rescue Sampit. Tim harus menembus kawasan gambut bekas terbakar dengan penerangan terbatas untuk menjangkau orangutan tersebut.
"Kondisinya saat ditemukan terjebak di areal terbakar bekas kebakaran," kata Muriansyah pada Kamis (15/10/2026).
Peristiwa bermula ketika seorang warga menemukan orangutan berjalan di kawasan kebun yang sebelumnya terbakar. Satwa tersebut kemudian naik ke pohon setelah menyadari keberadaan manusia, sementara warga memilih menghubungi petugas konservasi daripada berusaha menangkapnya sendiri.
Menurut keterangan warga, orangutan pertama kali terlihat sekitar pukul 08.00 WIB. Laporan kemudian diterima BKSDA Pos Sampit sekitar pukul 10.00 WIB dan langsung ditindaklanjuti dengan pemantauan lapangan.
Petugas BKSDA selanjutnya berkoordinasi dengan Seksi Konservasi Wilayah II Pangkalan Bun untuk menyiapkan penyelamatan. Komunitas Animal Rescue Sampit bergabung sekitar pukul 16.00 WIB, disusul tim BKSDA dan OFI yang tiba sekitar pukul 18.30 WIB.
Operasi tidak dapat dilakukan dengan mudah karena sebagian akses menuju lokasi telah rusak akibat kebakaran. Tanah gambut, sisa batang pohon yang terbakar, dan minimnya penerangan membuat petugas harus menggunakan kendaraan roda dua sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Penyelamatan akhirnya berlangsung antara pukul 19.00 hingga 20.00 WIB. Tim terlebih dahulu mengamati posisi orangutan yang masih aktif bergerak di atas pohon, kemudian melakukan pembiusan agar satwa tersebut dapat dievakuasi dengan aman.
Dokter hewan Ichlasul Khaerul menjelaskan bahwa kondisi fisik Ira secara umum masih baik ketika berhasil diselamatkan. Pemeriksaan awal tidak menemukan luka bakar, patah tulang, maupun cedera lain yang mengindikasikan satwa tersebut mengalami kekerasan fisik.
"Setelah melakukan pemeriksaan fisik, kami tidak menemukan adanya patah tulang, luka, ataupun peluru di tubuh orangutan tersebut," kata Ichlasul.
Pemeriksaan awal juga tidak memperlihatkan tanda-tanda infeksi saluran pernapasan akut akibat paparan asap kebakaran. Hasil pemeriksaan menggunakan stetoskop menunjukkan kondisi paru-paru orangutan masih tergolong baik.
Meski demikian, petugas medis menduga Ira mengalami kekurangan asupan makanan. Dugaan tersebut didasarkan pada kondisi lingkar perutnya serta terbatasnya sumber pakan di kawasan tempat satwa itu ditemukan.
Berat badan Ira tercatat sekitar 28 kilogram, yang menurut dokter hewan masih tergolong ideal untuk orangutan betina. Namun, pemeriksaan darah tetap diperlukan untuk mengetahui kemungkinan gangguan kesehatan yang tidak terdeteksi melalui pemeriksaan fisik.
"Untuk pemeriksaan lanjutan, kami akan memeriksa sampel darah di laboratorium. Kami juga akan melihat kondisinya setelah sadar dari pembiusan, apakah ada efek lain yang sebelumnya tidak ditemukan saat pemeriksaan di lapangan," ujar Ichlasul.
Hasil pemeriksaan lanjutan akan menjadi dasar bagi BKSDA untuk menentukan langkah penanganan berikutnya. Salah satu pilihan yang dipertimbangkan adalah pemindahan atau translokasi ke habitat yang aman dan memiliki ketersediaan makanan memadai.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara