BEKASI — Penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak cukup hanya dengan memberikan pelatihan. Pendampingan berkelanjutan, akses pembiayaan, dan perluasan pasar menjadi faktor penting agar pelaku usaha mampu meningkatkan skala bisnis sekaligus menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Direktur Operasi Pertamina Foundation, Gusman Adiwardhana, mengatakan Pertamina terus mendorong pengembangan UMKM melalui berbagai program pemberdayaan. Salah satunya melalui Pertamina SMEXPO 2026 Regional Bekasi yang melibatkan 50 UMKM.
Menurut Gusman, terdapat tiga tantangan utama yang masih dihadapi UMKM untuk berkembang, yakni pembiayaan, akses pasar, dan kualitas produk. Ketiga persoalan tersebut menjadi fokus dalam program pendampingan yang dijalankan Pertamina Foundation agar UMKM dapat meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan bisnisnya.
"Di sinilah Pertamina Foundation berupaya memastikan program pengembangan UMKM yang dilakukan bisa menjawab tiga hal tersebut. Harapannya, UMKM yang mendapatkan pengembangan dan pendampingan bisa berkembang hingga mampu menembus pasar global," ujar Gusman.
Dia mengatakan, program pemberdayaan Pertamina Foundation saat ini telah menjangkau mitra binaan dan local heroes di 28 provinsi di Indonesia. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada pembinaan, tetapi juga pendampingan agar pelaku usaha mampu mengembangkan potensi dan kemandirian bisnis.
Gusman menilai, penguatan UMKM memiliki arti strategis bagi perekonomian nasional. Dengan jumlah hampir 65 juta unit, UMKM berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa UMKM memiliki peran penting dalam menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, Pertamina Foundation berupaya menghadirkan ruang pemasaran yang dapat mempertemukan produk mitra binaan dengan konsumen. Pertamina SMEXPO menjadi salah satu sarana untuk memperluas jaringan usaha, meningkatkan transaksi, sekaligus membuka peluang bagi UMKM menjangkau pasar yang lebih besar.
Efektivitas upaya tersebut tercermin dari capaian transaksi SMEXPO Regional di sejumlah daerah. Gusman menyampaikan, omzet SMEXPO yang sebelumnya berkisar Rp2,5 miliar hingga Rp2,6 miliar meningkat menjadi Rp3,8 miliar pada penyelenggaraan SMEXPO Regional Yogyakarta 2026 selama tiga hari.
Berdasarkan data penyelenggaraan, capaian tersebut meningkat 52 persen dibandingkan SMEXPO Regional Yogyakarta 2025 yang mencatatkan omzet Rp2,5 miliar. Adapun penyelenggaraan Yogyakarta pada 2024 membukukan Rp2,6 miliar, sementara Jakarta pada 2025 mencapai Rp2,6 miliar.
Gusman mengatakan, peningkatan transaksi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa akses pemasaran yang lebih luas dapat memberikan dampak terhadap perkembangan usaha mitra binaan. Dengan semakin terbukanya pasar, pelaku UMKM memiliki kesempatan meningkatkan penjualan dan memperbesar skala bisnis.
Selain pengembangan pasar, Pertamina Foundation juga mendorong UMKM meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Sejumlah mitra binaan bahkan telah menunjukkan perkembangan dengan membawa produk mereka menembus pasar ekspor.
Melalui keterlibatan 50 UMKM dalam SMEXPO Regional Bekasi 2026, Pertamina berharap semakin banyak pelaku usaha memperoleh kesempatan mengembangkan bisnisnya. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan UMKM, tetapi juga menciptakan sumber ekonomi baru, memperkuat kemandirian masyarakat, dan menjadikan UMKM sebagai penggerak ekonomi bangsa.
Ikuti Whatsapp Channel Republika