Oleh: Azis Subekti, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA- Ada masa ketika saya menganggap kehidupan sebagai perjalanan untuk mencapai sesuatu. Sebuah cita-cita, pendidikan yang lebih tinggi, kedudukan yang lebih baik, atau keadaan yang memungkinkan saya memberikan kehidupan yang layak bagi orang-orang yang saya cintai.
Seperti kebanyakan anak muda, saya pernah membayangkan masa depan sebagai sebuah puncak yang harus dicapai. Semakin tinggi tempat yang berhasil diraih, semakin dekat rasanya seseorang dengan keberhasilan. Namun, setelah melewati perjalanan yang tidak selalu mudah, pandangan itu perlahan berubah.
Baca Juga- 6 Sifat dan Amalan yang Pelakunya Dijanjikan Surga Oleh Allah SWT, Tetapi dengan Syarat..
- 6 Sifat Malaikat Jibril Ini Bantah Anggapan Kafir Quraisy tentang Kepalsuan Alquran
- 12 Kisah Singkat Ini Ungkap Cara Umar Bin Khattab Jauhkan Kepentingan Keluarga dari Kekuasaan
Saya menemukan bahwa kehidupan tidak berjalan dalam satu garis lurus. Ada saat ketika kita telah mempersiapkan segalanya, tetapi kesempatan tidak datang.
Ada pula keadaan ketika sebuah pekerjaan sederhana, perjumpaan yang tidak direncanakan, bahkan kegagalan yang semula terasa menyakitkan, justru membuka jalan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
Kita sering terlalu sibuk menanyakan ke mana kehidupan akan membawa kita, sampai lupa memperhatikan manusia seperti apa yang sedang dibentuk oleh perjalanan itu.
Saya tidak menuliskan pengalaman ini karena merasa telah mencapai keberhasilan yang luar biasa. Masih terlalu banyak kekurangan yang saya sadari, keputusan yang seandainya dapat diulang mungkin akan saya tempuh dengan cara berbeda, serta tanggung jawab yang belum sepenuhnya mampu saya tunaikan.
Saya pun tidak ingin setiap kesulitan masa lalu dipandang sebagai kisah kepahlawanan. Sebab dalam banyak keadaan, saya hanya melakukan apa yang dapat dilakukan oleh seseorang yang tidak mempunyai banyak pilihan. Tetapi barangkali justru di sanalah kehidupan menyimpan pelajarannya.
Tidak semua hal yang berharga lahir dari keputusan besar. Sebagian tumbuh dari keberanian menjalani hari yang sulit, dari kesediaan menyelesaikan pekerjaan kecil dengan sungguh-sungguh, dan dari kemampuan menjaga harapan ketika keadaan belum memberikan alasan yang cukup untuk berharap.
Sejak muda saya sering menghibur diri dengan sebuah ungkapan: “Mendung yang bergelanyut akan segera pergi dan datang hujan pertanda keberkahan, malam yang mencekam akan terus berjalan menyambut pagi yang cerah. Dunia selalu dipergilirkan.”
Dahulu kalimat itu saya gunakan untuk menguatkan hati ketika mengalami kesulitan. Bertahun-tahun kemudian, saya menemukan makna yang lebih luas.
Pergiliran kehidupan ternyata bukan hanya tentang kesedihan yang berganti kebahagiaan, atau kegagalan yang akhirnya menemukan keberhasilan. Ia juga tentang bagaimana manusia memperlakukan dirinya ketika keadaan berubah.
Ketika berada di bawah, kita belajar bersabar. Ketika memperoleh kesempatan dan kedudukan, kita harus belajar menjaga diri agar tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain. Saya semakin menyadari bahwa ujian kedua itu tidak selalu lebih mudah daripada ujian pertama.
Saya berasal dari Wonosobo, sebuah daerah pegunungan di Jawa Tengah. Di sanalah sebagian besar masa kecil dan remaja saya berlangsung. Udara dingin, kehidupan masyarakat yang bersahaja, sekolah, persahabatan, serta pergaulan organisasi menjadi bagian dari lingkungan yang membentuk cara saya memandang dunia. Saya bersekolah di SD Negeri Balekambang, kemudian SMP Negeri Selomerto, dan melanjutkan pendidikan ke SMA Muhammadiyah Wonosobo.
Sejak sekolah saya memiliki ketertarikan besar pada ilmu pengetahuan, terutama matematika dan fisika. Ada kegembiraan tersendiri ketika dapat memahami sebuah persoalan yang pada awalnya terasa sulit.
Saya menyukai cara ilmu pengetahuan mempertemukan rasa ingin tahu dengan ketekunan berpikir. Meskipun jujur saya ungkapkan, nilai akademik saya di kedua pelajaran tersebut biasa saja.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika