Nasional

Remas Squishy Ampuh Redakan Stres Gen Alpha? Pakar Ingatkan Orang Tua Soal Ini

JAKARTA -- Squishy menjadi salah satu mainan yang digemari anak-anak. Selain bentuknya yang lucu dan teksturnya yang empuk, mainan sensorik ini juga digunakan sebagian anak untuk membantu menenangkan diri...

29 Oktober 2026, pukul 23:54 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA -- Squishy menjadi salah satu mainan yang digemari anak-anak. Selain bentuknya yang lucu dan teksturnya yang empuk, mainan sensorik ini juga digunakan sebagian anak untuk membantu menenangkan diri ketika menghadapi tekanan.

Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak IPB University, Dr Yulina Eva Riany, mengatakan aktivitas sensorik berulang, seperti meremas squishy, memang dapat membantu sebagian anak menenangkan diri dan mengalihkan perhatian dari situasi yang menegangkan. Meski demikian, penggunaan squishy bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi stres pada anak.

Baca Juga

"Squishy bukan solusi tunggal untuk mengatasi stres. Orang tua perlu memastikan keamanan mainan yang digunakan serta membantu anak mengembangkan cara lain untuk mengelola emosi," kata Dr Yulina dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (30/10/2026).

la juga menyoroti fenomena anak-anak generasi Alpha yang semakin akrab dengan istilah stres. Menurut dia, semakin akrabnya anak dengan istilah stres tidak serta-merta menunjukkan bahwa generasi Alpha lebih rentan mengalami gangguan psikologis dibandingkan generasi sebelumnya.

Gen Alpha mengalami stres (ilustrasi). (Dok. Freepik)

 

"Anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan digital dengan akses informasi luas sehingga lebih sering terpapar istilah psikologis melalui media sosial dan pergaulan. Ketika anak mengatakan 'Aku stres', respons pertama orang tua sebaiknya adalah mendengarkan dan mencari tahu apa yang sebenarnya dirasakan anak, bukan langsung memberikan penilaian atau nasihat," ujar Yulina.

Dia mengatakan stres merupakan respons alami ketika seseorang menghadapi tekanan atau tuntutan tertentu. Pada anak, tekanan tersebut dapat berasal dari berbagai faktor, mulai dari tuntutan akademik, jadwal kegiatan yang padat, paparan media digital berlebihan, konflik pertemanan, perundungan, hingga kurangnya komunikasi hangat dalam keluarga.

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait