Oleh: Fitriyan Zamzami
JAKARTA — Indonesia kedapatan mengekspor komoditas perkebunan ke Israel meski kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik resmi. Nilai ekspornya juga ajeg meski genosida berlangsung di Gaza dan karhutla membakar banyak wilayah lokasi lahan sawit di Tanah Air.
Baca Juga- Media Israel Ungkap Pembangkangan Militer, Kepala Staf IDF Tolak Instruksi Netanyahu Serang Iran
- Siapa yang Memegang Keputusan Perang terhadap Iran. AS atau Israel?
- Hukuman Kolektif, Israel Usir 2.500 Warga Palestina di Hebron
Bagaimana minyak sawit tersebut bisa sampai ke Israel? Republika mencoba menelusuri hal tersebut lewat penelaahan data publik yang tersedia.
Data Kementerian Pertanian yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, bukan hanya sawit dan produk turunannya yang mengalir ke Israel. Komoditas kelapa juga demikian.
Pada 2023, ekspor kelapa Indonesia ke Israel tercatat mencapai 3.193,88 ton dengan nilai 3,34 juta dolar AS. Adapun ekspor sawit mencapai 29.605,14 ton dengan nilai 28,06 juta dolar AS, berdasarkan angka yang tersedia dalam data awal.
Pada 2024, volume ekspor kelapa meningkat menjadi 4.062,93 ton dengan nilai 4,56 juta dolar AS. Sementara itu, ekspor sawit beserta hasil pertanian dan produk olahannya tercatat mencapai 22.357,01 ton dengan nilai 22,46 juta dolar AS.
Tren peningkatan nilai ekspor kelapa berlanjut pada 2025. Nilainya naik dari 4,56 juta dolar AS pada 2024 menjadi 9,44 juta dolar AS pada 2025. Sebaliknya, volume ekspor sawit turun dari 29.605,14 ton pada 2023 menjadi 22.357,01 ton pada 2024, lalu kembali turun menjadi 19.487,43 ton pada 2025.
Tabel Impor Sawit Indonesia ke Israel Sepanjang 2023-2026 - (Kementerian Pertanian/BPS)
Sementara itu, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, ekspor kelapa ke Israel tercatat mencapai 4.859,61 ton dengan nilai 8,45 juta dolar AS. Ekspor sawit pada periode yang sama mencapai 10.405,54 ton dengan nilai 12,34 juta dolar AS.
Dengan demikian, nilai ekspor kedua komoditas tersebut selama delapan bulan pertama 2026 mencapai sekitar 20,79 juta dolar AS, dengan total volume sekitar 15.265,16 ton.
Dalam penelitian berjudul An Analysis of Indonesia's Trade Policy on the Sustainability of CPO Trade with Israel, 2020–2025 yang ditulis Fidelis Adhiyatna Bagaskara dan Rizal Budi Santoso dari Departemen Perdagangan Internasional, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Widyatama, Bandung; sepanjang 2020–2025, Indonesia memasok rata-rata 71,1 persen dari total impor CPO Israel.
Makalah tersebut diterbitkan dalam jurnal ilmiah Golden Ratio of Mapping Idea and Literature Format, Volume 6, Edisi 4, 2026.
Penelitian itu menunjukkan, nilai ekspor CPO Indonesia ke Israel mencapai 16,89 juta dolar AS pada 2020. Angkanya meningkat hingga mencapai puncak 30,77 juta dolar AS pada 2022, sebelum turun menjadi 21,59 juta dolar AS pada 2025.
Seorang pekerja mengawasi proses pemuatan minyak sawit mentah (CPO) ke dalam kapal untuk diekspor ke luar negeri di Pelabuhan Pelindo I Dumai di kota Dumai, Dumai, Riau. - (Aswaddy Hamid/Antara)
Artinya, perdagangan komoditas tersebut tetap berjalan setiap tahun selama periode penelitian, meskipun Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Israel.
Bagaskara dan Santoso menganalisis data perdagangan bilateral kode HS 1511 dari International Trade Centre melalui Trade Map, dengan data UN Comtrade sebagai pembanding. Peneliti juga mengkaji berbagai regulasi ekspor Indonesia, termasuk ketentuan bea keluar, pungutan dana perkebunan kelapa sawit, harga referensi atau harga patokan ekspor, serta pembatasan ekspor yang berlaku selama periode penelitian.
Hasil analisis menunjukkan, regulasi tersebut tidak secara khusus membedakan Israel dari negara tujuan ekspor lainnya. Status hubungan diplomatik juga tidak dijadikan dasar untuk menentukan tarif atau pembatasan ekspor dalam peraturan yang dikaji.
Kebijakan larangan sementara ekspor pada 2022, misalnya, diberlakukan berdasarkan komoditas dan kebutuhan dalam negeri, bukan sebagai larangan khusus terhadap Israel. Temuan lain yang menonjol adalah ketimpangan tingkat ketergantungan kedua negara. Bagi Israel, pasokan CPO Indonesia memiliki arti penting. Bagi Indonesia, pasar Israel justru menyumbang porsi yang sangat kecil terhadap keseluruhan ekspor CPO nasional.
Menurut penelitian tersebut, Israel menyerap kurang dari 0,12 persen total ekspor CPO Indonesia sepanjang 2020–2025. Sebaliknya, Indonesia memasok rata-rata 71,1 persen dari keseluruhan impor CPO Israel pada periode yang sama.
Meski demikian, peneliti tidak menyimpulkan Israel sepenuhnya bergantung kepada Indonesia. Israel masih memiliki pemasok alternatif, antara lain Singapura, Yunani, dan Malaysia. Di sini kemudian ada petunjuk soal jalur sawit dari Indonesia ke Israel.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika