REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Putaran perang berikutnya antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran berpotensi berlangsung lebih sengit dibandingkan sebelumnya.
Ruang diplomasi semakin menyempit, sementara kedua belah pihak cenderung mengandalkan kekuatan militer untuk mengakhiri konflik.
Baca Juga- Lokasi Terendah di Bumi, Kisah Kekalahan Romawi, dan Mukjizat Ilmiah Alquran yang Bungkam Ateis
- 4 Kisah Palsu yang Disisipkan dalam Riwayat Pengangkatan Utsman Bin Affan sebagai Khalifah
- 12 Kisah Singkat Ini Ungkap Cara Umar Bin Khattab Jauhkan Kepentingan Keluarga dari Kekuasaan
Menurut sejumlah analis, keberlangsungan Iran sebagai sebuah negara kini bergantung pada serangan militer yang telah lama diisyaratkan Washington.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negaranya telah menunjukkan kinerja yang baik dalam menghadapi Iran.
Dalam pernyataannya tadi malam, Trump mengatakan, “Kita hanya tinggal mengambil keputusan akhir mengenai cara yang kita inginkan untuk meraih kemenangan.”
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa solusi politik dengan Teheran tidak lagi memungkinkan.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, saat bertemu dengan Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir, menegaskan bahwa Washington harus terlebih dahulu mencabut tekanan, ancaman, dan sanksi sebelum kedua pihak dapat memulai perundingan.
Pernyataan para pejabat Amerika Serikat mengindikasikan adanya niat yang jelas untuk kembali berperang.
Tim Constantine, Wakil Pemimpin Redaksi The Washington Times, menilai bahwa seluruh jajaran pemerintahan Trump tidak lagi percaya pada jalur perundingan.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika