SINGAPURA -- Singapura memperluas kerja sama energi dengan Malaysia melalui rencana impor listrik rendah karbon hingga 1,3 gigawatt. Proyek yang melibatkan sejumlah perusahaan energi dari kawasan Asia Tenggara itu menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pasokan listrik sekaligus mendukung transisi energi regional.
Menteri Energi, Perdagangan dan Industri Singapura Tan See Leng mengatakan, pemerintah akan memberikan persetujuan bersyarat kepada Sembcorp Utilities untuk mengimpor hingga 1,3 gigawatt listrik terbarukan dari dan melalui Semenanjung Malaysia.
Baca Juga- Singapura Setujui Impor 1,3 GW Listrik Rendah Karbon dari Malaysia
- Akademisi Nilai Pengurangan Ekspor Gas ke Singapura Perkuat Pasokan Domestik
- RI Pangkas Ekspor Gas ke Singapura, Bahlil: Hanya Dua Persen dari Kebutuhan Mereka
Tan menyampaikan pengumuman tersebut dalam pidatonya pada Singapore International Energy Week (SIEW) 2026, Senin (26/10/2026). Persetujuan bersyarat itu akan memperluas pilihan pasokan listrik rendah karbon yang dapat dimanfaatkan Singapura.
Melalui konsorsiumnya, Sembcorp berencana memperoleh listrik rendah karbon dari berbagai sumber, termasuk pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai di Vietnam dan tenaga surya di Malaysia. Konsorsium tersebut melibatkan Petronas, Gentari, dan PetroVietnam Technical Services Corporation.
Menurut Tan, pengembangan perdagangan listrik lintas batas dapat memperkuat keamanan energi sekaligus mempercepat peralihan menuju sistem kelistrikan yang lebih rendah emisi.
“Jaringan listrik regional yang saling terhubung, dengan negara-negara memperdagangkan listrik dan berbagi kapasitas cadangan, dapat memberikan dorongan besar bagi transisi energi,” kata Tan.
Ia menilai, manfaat konektivitas energi tidak hanya dirasakan Singapura sebagai negara kota dengan keterbatasan sumber daya domestik, tetapi juga negara-negara lain di kawasan.
Persetujuan kepada Sembcorp melanjutkan langkah yang diumumkan pada Agustus 2026, ketika Energy Market Authority (EMA) memberikan persetujuan bersyarat kepada dua proyek untuk mengimpor total 900 megawatt listrik rendah karbon dari Johor, Malaysia.
Dengan tambahan proyek terbaru, Singapura memperluas portofolio pilihan impor listriknya sembari tetap mempertimbangkan kelayakan harga dan kondisi pasar. Untuk mendukung perdagangan listrik lintas negara, Singapura juga mempercepat pembangunan infrastruktur interkoneksi dengan Malaysia.
Tan mengungkapkan, survei bawah laut pada jalur yang diusulkan untuk kabel interkoneksi baru Singapura–Semenanjung Malaysia mulai dilakukan pada Oktober 2026.
Proyek tersebut sebelumnya memasuki tahap pengembangan setelah SP Power Assets dan Tenaga Nasional Berhad menandatangani perjanjian pengembangan bersama pada Oktober 2025. Perjanjian itu mencakup studi teknis dan komersial secara terperinci.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika