REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kondisi sosial ekonomi keluarga dinilai memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan otak anak lebih dari yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini berdasarkan pada studi terbaru yang dilakukan para ilmuwan dari Washington University.
Dalam studi yang melibatkan sekitar 12 ribu anak berusia 9-10 tahun, para peneliti menemukan bahwa faktor sosial ekonomi menyumbang sekitar 16 persen variasi pada ukuran fungsi otak anak. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pengaruh kecerdasan intelektual (IQ), pola asuh, dan riwayat kesehatan.
Baca Juga- Anak Makin Akrab dengan Medsos, Pakar Ingatkan Risikonya
- Dokter Sebut Perubahan Iklim Picu Lonjakan DBD, Anak Semakin Rentan
- Tips Keuangan Buat Gen Z Supaya Nggak Belanja Impulsif
Penulis senior studi, Nico Dosenbach, mengatakan otak anak dari keluarga miskin terlihat mirip dengan otak anak dari keluarga kaya yang mengalami kurang tidur dan stres tinggi. "Otak seorang anak dari latar belakang sosioekonomi rendah terlihat seperti otak anak dari lingkungan sosioekonomi tinggi yang kurang tidur dan stres," kata Dosenbach seperti dilansir laman Euro News, Jumat (12/6/2026).
Namun demikian, hal ini bukan berarti anak dari kelurga miskin memiliki otak yang kurang pintar. Karena menurut Dosenbach, perbedaan yang muncul akibat faktor sosial ekonomi dapat dikurangi jika stres dan kualitas tidur anak diperbaiki.
Anak-anak diketahui sangat rentan terhadap kemiskinan. Mereka lebih mungkin hidup dalam kemiskinan dibandingkan orang dewasa, dan hal itu dapat memberikan dampak yang lebih besar pada mereka selama masa-masa penting perkembangan otak.
Sejumlah pelajar Sekolah Dasar (SD) bersalaman dengan guru saat halalbihalal di SD N Proyonanggan 03, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Senin (30/3/2026). Usai libur Lebaran 2026, siswa dan guru mulai menggelar kegiatan dengan halalbihalal di lingkungan sekolah pada hari pertama masuk sekolah sebagai wadah untuk menjaga tradisi saling memaafkan yang bertujuan untuk memberikan semangat dan motivai kepada siswa. - (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)
Menurut UNICEF, hampir 900 juta anak di seluruh dunia mengalami kemiskinan multidimensional. Ini berarti mereka kekurangan kebutuhan dasar seperti makanan, air, tempat tinggal, pendidikan, dan perawatan kesehatan.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis 649 variabel yang memengaruhi perkembangan otak anak. Variabel ini mencakup screen time, kemampuan kognitif, kesehatan fisik dan mental, pola asuh, hingga faktor demografis seperti ras dan jenis kelamin.
Sejumlah anak bermain permainan tradisional di Taman Robusta, Pondok Kopi, Jakarta Timur, Jumat (7/2/2025). Taman Robusta menyediakan ruang bermain ramah anak dengan fasilitas permainan tradisional seperti ular tangga dan tapak gunung guna mengurangi dampak negatif penggunaan gadget pada anak-anak. - (Republika/Prayogi)
Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi keuangan dan lingkungan tempat tinggal menjadi faktor utama yang paling berpengaruh. Kedua faktor ini sangat berkaitan dengan fungsi otak pada area motorik dan sensorik, yang sangat sensitif terhadap perubahan harian seperti kualitas tidur dan tingkat stres.
Penulis utama studi, Scott Marek, menyebut temuan ini sebagai sesuatu yang mengejutkan. la bahkan menggambarkan faktor sosial ekonomi sebagai "gajah di dalam otak" karena pengaruhnya yang sangat besar.
"Saya mulai menyebutnya 'gajah' di dalam otak. Saya sudah menduga sosioekonomi akan berpengaruh, tapi saya tidak menyangka akan berpengaruh sebesar ini. Itu benar-benar mengalahkan segalanya," kata Marek.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika