Nasional

Sumpah Pemuda dan Masa Depan Anak Muda yang Kian tidak Pasti

28 Oktober 1928, sekelompok anak muda dari berbagai daerah berkumpul di Batavia. Mereka hidup dalam penjajahan, belum memiliki negara yang merdeka, dan tidak mempunyai kepastian tentang masa depan bangsanya....

28 Oktober 2026, pukul 12:18 WIB · dibaca 0 kali

Oleh: Hasanuddin Ali, CEO Alvara Research Center

28 Oktober 1928, sekelompok anak muda dari berbagai daerah berkumpul di Batavia. Mereka hidup dalam penjajahan, belum memiliki negara yang merdeka, dan tidak mempunyai kepastian tentang masa depan bangsanya. Di tengah keterbatasan itu, mereka berani mengambil keputusan besar. Mengaku bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia.

98 tahun kemudian, keadaan berbalik. Indonesia telah merdeka, memiliki skala ekonomi yang jauh lebih besar, serta jutaan anak muda berpendidikan. Ironisnya, di tengah segala kemajuan tersebut, sebagian anak muda justru menghadapi ketidakpastian tentang masa depan mereka sendiri.

Baca Juga

Survei nasional Alvara Research Center dipenghujung tahun 2024 menemukan kegelisahan yang cukup kuat mengenai masa depan di kalangan anak muda Indonesia. Kekhawatiran Gen Z terbesar berkaitan dengan prospek karier atau usaha, yang mencapai 28,8 persen. Kekhawatiran tentang pendapatan berada pada angka 26,6 persen, disusul kesehatan sebesar 23,1 persen.

Kegelisahan tersebut memperlihatkan betapa persoalan ekonomi telah memasuki ruang batin generasi muda. Pekerjaan, penghasilan, dan kemampuan membangun kehidupan keluarga menjadi sumber kecemasan utama.

Temuan Alvara juga menunjukkan bahwa pekerjaan dengan gaji tinggi menempati urutan pertama dalam prioritas kehidupan Gen Z, disusul keinginan memiliki rumah sendiri dan menabung untuk masa depan. Aspirasi mereka sesungguhnya sangat mendasar, yakni mempunyai pekerjaan yang baik, memperoleh penghasilan layak, dan membangun kehidupan yang lebih mapan.

Di balik citra anak muda yang gemar hiburan, aktif di media sosial, dan mengikuti perkembangan teknologi, tersimpan kekhawatiran yang sangat nyata. Mereka menghadapi persaingan kerja yang semakin ketat, harga hunian yang sulit dijangkau, dan tuntutan keterampilan yang terus berubah.

Kegelisahan itu tidak berdiri sendiri. Struktur perekonomian Indonesia belum sepenuhnya mampu menyediakan pekerjaan berkualitas bagi jutaan anak muda yang setiap tahun memasuki pasar kerja.

Negeri yang Belum Ramah bagi Anak Muda

Data Badan Pusat Statistik pada Februari 2026 mencatat sekitar 3,55 juta penganggur berusia 15–24 tahun. Jumlah ini hampir separuh dari keseluruhan 7,24 juta penganggur di Indonesia. Tingkat pengangguran kelompok usia tersebut mencapai sekitar 16,4 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran nasional.

Angka tersebut merupakan peringatan serius. Kesulitan memperoleh pekerjaan terkonsentrasi pada kelompok yang sedang memasuki fase paling menentukan dalam kehidupan ekonominya.

Bagi anak muda, pengangguran berarti tertundanya berbagai rencana hidup. Keinginan untuk mandiri secara finansial, membantu orang tua, menikah, atau mempunyai rumah sendiri semakin sulit diwujudkan.

Bahkan ketika pekerjaan berhasil diperoleh, persoalan belum selesai. Data BPS Agustus 2025 menunjukkan rata-rata upah buruh nasional sebesar Rp 3,33 juta per bulan. Angka ini memberikan gambaran tentang keterbatasan pendapatan pekerja di tengah kebutuhan hidup yang terus berkembang.

Kita terlalu sering meminta anak muda bekerja keras, meningkatkan keterampilan, menjadi kreatif, dan berani mengambil risiko. Nasihat tersebut terdengar masuk akal, tetapi mengabaikan kenyataan bahwa kesempatan ekonomi tidak tersedia secara merata.

Seorang lulusan perguruan tinggi dari keluarga mampu mempunyai ruang lebih besar untuk menunggu pekerjaan yang sesuai. Ia bisa mengikuti pelatihan tambahan, membangun jejaring, bahkan mencoba berwirausaha dengan dukungan modal keluarga. Anak muda dari keluarga berpenghasilan rendah menghadapi pilihan yang jauh lebih sempit. Mereka sering harus menerima pekerjaan apa pun demi segera memperoleh penghasilan.

Di sinilah persoalan kesempatan berubah menjadi persoalan keadilan. Masa depan semakin dipengaruhi oleh keadaan ekonomi keluarga tempat seseorang dilahirkan.

Negara yang menjanjikan kemajuan semestinya mampu memperluas mobilitas sosial, sehingga pendidikan, kerja keras, dan kemampuan benar-benar membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Nasionalisme Membutuhkan Harapan

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait