Nasional

Syarikat Islam: Kemerdekaan Sejati Harus Ditopang Kemandirian Ekonomi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Memasuki usia ke-121, Syarikat Islam (SI) kembali meneguhkan arah perjuangannya melalui penyelenggaraan Majelis Tahkim/ Kongres Nasional ke-42 di Surabaya pada tanggal 17-20 Oktober 2026. Mengusung tema "Dakwah...

20 Oktober 2026, pukul 06:51 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Memasuki usia ke-121, Syarikat Islam (SI) kembali meneguhkan arah perjuangannya melalui penyelenggaraan Majelis Tahkim/ Kongres Nasional ke-42 di Surabaya pada tanggal 17-20 Oktober 2026. Mengusung tema "Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati" forum nasional ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penegasan komitmen Syarikat Islam untuk memperkuat kemandirian ekonomi umat, mengembangkan ekonomi rakyat, dan mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan.

Ketua Syarikat Islam, Yudhi Isryadi Syafii mengatakan, berawal dari berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) di Surakarta pada 16 Oktober 1905, SI memiliki perjalanan panjang dalam sejarah pergerakan nasional lndonesia. Selama lebih dari satu abad, organisasi ini menghadapi berbagai perubahan sosial, politik dan ekonomi yang menuntut kesinambungan nilai perjuangan sekaligus pembaruan strategi gerakan. 

Baca Juga

Pada momentum 121 tahun ini, SI menegaskan bahwa warisan sejarah tidak cukup dipelihara sebagai kebanggaan masa lalu. Warisan tersebut harus diterjemahkan menjadi agenda perjuangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama melalui penguatan dakwah ekonomi sebagai jalan membangun kemandirian umat dan bangsa.

"Tema Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati mengandung pesan mendasar tentang hubungan antara dakwah, kemandirian ekonomi, dan cita-cita kebangsaan. Kemerdekaan sejati tidak hanya dimaknai sebagai terbebasnya bangsa dari penjajahan politik, tetapi juga sebagai kemampuan masyarakat untuk mengembangkan potensi, mengelola sumber daya, membangun usaha, dan memenuhi kebutuhan hidup dengan bertumpu pada kekuatan sendiri," kata Yudhi dalam siaran pers yang diterima Republika, Senin(19/10/2026)

Yudhi mengatakan, dalam perspektif tersebut, dakwah ekonomi bukan sekadar kegiatan mencari keuntungan atau memperluas perdagangan. Dakwah ekonomi merupakan upaya menghadirkan nilai-nilai moral, keadilan, tanggung jawab, dan kemaslahatan dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Ferry Juliantono dilantik menjadi Presiden Lajnah Tanfidziyah Pimpinan Pusat Syarikat Islam (SI) masa jihad 2026-2031. - (Republika)

Kemandirian ekonomi umat memerlukan penguatan pelaku usaha, perluasan kesempatan ekonomi, pengembangan kerja sama, serta pembentukan ekosistem usaha yang memungkinkan masyarakat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Pada saat yang sama, kegiatan ekonomi perlu diarahkan untuk mengurangi ketimpangan dan memperluas akses masyarakat terhadap sumber-sumber kesejahteraan.

"Dakwah ekonomi juga harus mampu menjawab persoalan kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Kemajuan ekonomi tidak cukup diukur dari peningkatan pendapatan dan perluasan usaha, tetapi juga perlu memperhatikan keadilan sosial, keberlanjutan sumber penghidupan, dan kemaslahatan generasi mendatang,"kata dia.

Karena itu, Yudhi mengatakan, SI berkehendak untuk terus mengembangkan dakwah ekonomi sebagai gerakan yang menghubungkan nilai dan tindakan, gagasan dan kelembagaan, serta semangat perjuangan dan hasil nyata yang dirasakan masyarakat.

"Tujuan akhirnya bukan semata-mata memperkuat kegiatan ekonomi organisasi, melainkan juga turut membangun kehidupan ekonomi bangsa yang mandiri, berkeadilan, dan berorientasi pada kemaslahatan rakyat,"ujar dia.

Lihat di situs asli

Berita terkait