YERUSALEM — Koalisi sayap kanan pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diproyeksikan tumbang dalam pemilu yang digelar Selasa (27/10/2026). Hasil exit poll menunjukkan perolehan kursi koalisi tersebut turun drastis dari mayoritas 68 kursi yang dikuasai saat ini di Knesset (parlemen Israel). Meski demikian, partai-partai oposisi anti-Netanyahu juga dinilai tidak memiliki jalan mudah untuk membentuk pemerintahan alternatif, kecuali para pemimpin utamanya melanggar janji kampanye terkait kerja sama dengan faksi-faksi mayoritas Arab.
Hasil exit poll dari tiga jaringan media utama menunjukkan blok pro-Netanyahu hanya meraih 50 atau 51 kursi di Knesset periode berikutnya. Sementara itu, partai-partai oposisi yang dipimpin faksi Yahudi mengamankan 51 atau 52 kursi.Kedua blok tersebut sama-sama gagal mencapai ambang batas mayoritas 61 kursi dari total 120 kursi parlemen.
Baca Juga- BEM UI Gelar Aksi di Bundaran Hari Ini, Pramono Harap 'Happy-Happy'
- Benarkah Nusron Wahid Diperiksa Hari Ini? Begini Jawaban KPK
- Terhubung Melayani, Bergerak untuk Negeri
Sisa 18 kursi dalam exit poll Channel 11, Channel 12, dan Channel 13 diraih oleh dua partai berlatar belakang Arab. Perolehan ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah bagi Aliansi Bersama (Joint List) dan Ra'am, yang saat ini hanya memegang sepuluh kursi di Knesset. Lonjakan suara kedua partai tersebut tampaknya terdorong oleh kampanye dari Partai Likud milik Netanyahu dan Partai Otzma Yehudit pimpinan Menteri Keamanan Nasional dari faksi ekstrem kanan, Itamar Ben Gvir, yang kerap memosisikan mereka sebagai ancaman keamanan nasional, seperti dilansir dari Times of Israel.
Peserta aksi menginjak gambar Netanyahu saat aksi solidaritas bertajuk #HarapanPalestina: Indonesia Tegas Lawan Israel & AS di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Ahad (26/10/2025). Aksi tersebut berlangsung dengan menampilkan beragam hiburan musik, orasi, lelang karya seni hingga penampilan teatrikal. Dalam aksinya massa mengecam genosida yang dilakukan oleh israel terhadap warga Palestina, sulitnya akses bantuan kemanusiaan dan peran AS yang dinilai menghambat upaya diplomasi di forum internasional. - (Republika/Thoudy Badai)
Partai-partai berlatar belakang Arab tersebut juga menolak memberikan kesempatan periode baru bagi Netanyahu. Hal ini menandakan adanya mayoritas mutlak 70 kursi di Knesset yang menentang sang Perdana Menteri. Kendati demikian, tiga dari empat partai oposisi berlatar belakang Yahudi telah secara tegas menolak berkoalisi dengan partai-partai mayoritas Arab. Opsi pembentukan koalisi bagi mereka pun tertutup jika janji kampanye itu ditepati.
Para pemimpin partai dari seluruh spektrum politik mengimbau para pendukung untuk menanti hasil resmi. Penghitungan suara baru dimulai pada Selasa malam hingga Rabu dan diperkirakan selesai sepenuhnya pada Jumat.
Ketiga jaringan media utama menempatkan Partai Likud pimpinan Netanyahu di posisi teratas dengan perolehan 24 atau 25 kursi—turun dari raihan saat ini sebanyak 32 kursi. Di posisi kedua ditempati oleh rival utama Netanyahu, Gadi Eisenkot bersama Partai Yashar, yang diproyeksikan meraih 21 hingga 23 kursi
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika