REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tim arkeolog Mesir mengungkap temuan besar di tengah Gurun Barat yang membuka kembali tabir sejarah peradaban kuno negeri Sungai Nil. Di Oasis Bahariya, sekitar ratusan kilometer dari Kairo, para peneliti menemukan kompleks bangunan dan struktur keagamaan yang berusia sekitar 2.500 tahun, berasal dari masa Dinasti ke-26 Mesir kuno.
Penemuan itu diumumkan Kementerian Pariwisata dan Kepurbakalaan Mesir pada Jumat (20/6). Misi arkeologi Dewan Tertinggi Kepurbakalaan Mesir (Supreme Council of Antiquities/SCA) menemukan sejumlah elemen arsitektur penting di Kuil Al-Qasr Al-Qadim atau Istana Tua, salah satu situs bersejarah paling penting di Oasis Bahariya.
Baca Juga- Mustahil tapi Nyata, Gurun Taklimakan China Kini Jadi Industri Seafood Premium
- Kode Keras untuk Rusia, AS Setuju Bangun Pangkalan Militer di Polandia
- Turki Bidik Takhta Kaviar Rusia, Nilainya Miliaran Dolar
Yang paling menarik, tim menemukan sisa-sisa ruangan berbahan batu pasir, balok-balok batu bertulis yang memuat nama dan gelar Raja Psamtik I, serta berbagai artefak yang membantu mengungkap peran strategis kawasan tersebut pada masa lampau.
Sekretaris Jenderal SCA, Hisham Elleithy, mengatakan temuan tersebut memberikan bukti baru mengenai pentingnya situs itu dalam kehidupan politik dan keagamaan Mesir kuno. Menurut dia, kompleks tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga menjadi salah satu pusat administrasi utama yang digunakan selama berbagai periode sejarah.
Penemuan lain yang tak kalah penting adalah aula hipostil utama kuil yang ditopang oleh 16 kolom batu pasir raksasa. Di sekitar aula tersebut, arkeolog menemukan sejumlah ruangan dan tempat suci yang masih menyimpan teks-teks hieroglif kuno.
Tulisan-tulisan itu menyebut nama sejumlah dewa penting dalam kepercayaan Mesir kuno, seperti Amun-Ra, Amunet, dan Khonsu. Keberadaan inskripsi tersebut memperkuat dugaan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas keagamaan yang berpengaruh di wilayah gurun Mesir.
Kepala Sektor Kepurbakalaan Mesir SCA, Mohamed Abdel-Badie, menjelaskan pembangunan aula besar itu dimulai pada masa pemerintahan Raja Psamtik I dan diselesaikan oleh penerusnya, yakni Raja Wahibre (Apries) serta Ahmose II (Amasis).
Namun kejutan tidak berhenti di situ. Tim arkeologi juga menemukan sebuah stela atau prasasti batu yang berasal dari masa Raja Amenhotep II dari Dinasti ke-18. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara Oasis Bahariya dan pusat kekuasaan Mesir telah terjalin jauh lebih awal, yakni sejak era Kerajaan Baru.
Selain itu, para peneliti menemukan artefak dari masa Raja Ramses II, salah satu penguasa paling terkenal dalam sejarah Mesir kuno. Keberadaan benda-benda tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas keagamaan dan kehidupan perkotaan di kawasan itu telah berlangsung berabad-abad sebelum masa Dinasti ke-26.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Xinhua