Nasional

Tiga Jenis Rasa Malu, Muslim Harus Memilikinya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam menempatkan malu sebagai bagian dari iman. Orang beriman pasti memiliki sifat malu. Sifat malu dalam diri seseorang akan membuatnya semakin berakhlak. Karena hakikat dari malu adalah...

20 Juni 2026, pukul 02:28 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam menempatkan malu sebagai bagian dari iman. Orang beriman pasti memiliki sifat malu.

Sifat malu dalam diri seseorang akan membuatnya semakin berakhlak. Karena hakikat dari malu adalah akhlak yang mendorong untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan mencegah dari bersikap melalaikan hak orang lain.

Baca Juga

Dari Imran bin Hushain, ia berkata, "Rasulullah bersabda, 'Malu itu tidak mendatangkan sesuatu selain kebaikan'." (Muttafaq 'alaih)

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Iman itu (terdiri atas) lebih dari 70 atau 60 cabang. Cabang iman tertinggi adalah mengucapkan 'La ilaaha illa Allah', dan cabang iman terendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Rasa malu pun merupakan cabang dari iman" (HR Bukhari-Muslim).

Dalam konteks ini, malu bukan berarti rendah diri atau kelemahan, melainkan akhlak mulia yang mengarahkan seseorang untuk menjauhi dosa, menahan diri dari keburukan, dan berlaku adil terhadap hak orang lain.

Sifat malu mampu menghalangi seseorang dari melakukan perbuatan buruk dan perilaku yang tercela, sekaligus mendorongnya untuk berperilaku mulia. Sebagaimana perkataan sebagian salaf dalam kita terjemahan Riyadush Shalihin,

“Aku melihat kemaksiatan merupakan kehinaan sehingga aku meninggalkannya demi menjada kehormatan diri, dan mustahil kemaksiatan menjadi agamaku”

Apabila seseorang hilang malunya, secara bertahap perilakunya akan buruk, kemudian menurun kepada yang lebih buruk, dan terus meluncur ke bawah.

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya, Allah apabila hendak membinasakan seseorang, Dia mencabut rasa malu dari orang itu. Apabila rasa malunya sudah dicabut, kamu tidak menjumpainya kecuali dibenci.

Apabila tidak menjumpainya kecuali dibenci, dicabutlah darinya sifat amanah. Apabila sifat amanah sudah dicabut darinya, maka tidak akan didapati dari dirinya kecuali sebagai pengkhianat dan dikhianati.

Kalau sudah menjadi pengkhianat dan dikhianati, dicabutlah darinya rahmat. Kalau rahmat sudah dicabut darinya, tidak akan kamu dapati darinya kecuali terkutuk (atau) yang mengutuk.

Apabila terkutuk yang mengutuk sudah dicabut darinya, maka akhirnya dicabutlah ikatan keislamannya" (HR Ibnu Majah).

      View this post on Instagram      

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait