REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG — Pengembangan kota mandiri tidak hanya bertumpu pada pembangunan hunian, tetapi juga pada pertumbuhan fasilitas komersial dan aktivitas ekonomi yang menopang kehidupan masyarakat. Di Tangerang Barat, CitraRaya Tangerang yang dikembangkan Ciputra Group sejak 1994 telah berkembang menjadi kawasan seluas sekitar 2.760 hektare dengan lebih dari 80.000 jiwa penghuni. Kawasan ini juga mencakup lebih dari 51 kluster hunian serta lebih dari 1.800 unit komersial.
Skala pengembangan tersebut mencerminkan pertumbuhan kawasan yang mengintegrasikan hunian dengan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari pendidikan, kesehatan, rekreasi, transportasi, hingga pusat kegiatan usaha. Perkembangan ini juga menjadi bagian dari dinamika wilayah Tangerang Barat seiring bertambahnya kebutuhan masyarakat terhadap tempat tinggal dan fasilitas perkotaan.
Baca Juga- Dua Tahun Prabowo-Gibran, Ini Hasil Kajian Komunikasi Evident Institute
- Jadwal Asian Para Games 2026 Hari Ini: Indonesia Terus Berburu Medali Meski Sudah Lampaui Target
- Macron Murka, Sindir Trump dan Netanyahu Tunggangi Kerusuhan Prancis demi Pemilu
Ketika pertama kali dikembangkan pada 1994, CitraRaya tidak hanya berorientasi pada penyediaan tempat tinggal, tetapi juga pada pembentukan lingkungan yang dapat berkembang mengikuti kebutuhan penghuninya. Pembangunan dilakukan secara bertahap seiring perubahan kebutuhan masyarakat dan dinamika wilayah Tangerang.
Dalam perjalanannya, berbagai kluster hunian hadir berdampingan dengan kawasan komersial, institusi pendidikan, fasilitas kesehatan, pusat olahraga, tempat ibadah, serta destinasi rekreasi. Integrasi tersebut membentuk ekosistem kawasan yang mendukung beragam aktivitas masyarakat, termasuk bekerja, berusaha, belajar, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Senior Marketing Manager CitraRaya Tangerang Joni Jingga menilai bahwa perkembangan sebuah kota mandiri tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh hubungan yang terbentuk antara kawasan dan masyarakat yang tinggal di dalamnya. Kehadiran ruang interaksi sosial menjadi salah satu pilar penting dalam membangun kebersamaan warga.
“Bagi kami, perkembangan CitraRaya bukan semata-mata tentang bertambahnya hunian atau fasilitas. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana kawasan ini menjadi bagian dari perjalanan hidup masyarakat. Ada keluarga yang membesarkan anak-anaknya di sini, pelaku usaha yang membangun bisnis, dan generasi muda yang tumbuh bersama perkembangan lingkungannya. Ketika masyarakat dapat membangun kehidupan dan memiliki keterikatan dengan tempat tinggalnya, di situlah sebuah kawasan mulai berkembang menjadi kota yang sesungguhnya,” ujar Joni dalam keterangan, Kamis (22/10/2026).
Pertumbuhan CitraRaya juga berjalan seiring dengan perubahan karakter Tangerang Barat. Kehadiran berbagai fasilitas dan kawasan komersial mendorong terbentuknya pusat aktivitas baru yang melayani penghuni maupun masyarakat dari wilayah sekitarnya.
Berbagai kegiatan ekonomi berkembang berdampingan dengan kawasan hunian. Pusat pendidikan, Ciputra Hospital, area olahraga, pusat kuliner, ritel, fasilitas keagamaan, dan destinasi rekreasi menjadi bagian dari aktivitas masyarakat di kawasan tersebut.
WaterWorld, EcoPlaza, dan Mal Ciputra Tangerang turut melengkapi fasilitas komersial dan rekreasi. Selain menjadi tujuan berbelanja dan berwisata, fasilitas tersebut menyediakan ruang bagi pertemuan keluarga dan komunitas.
Sementara itu, pertumbuhan area komersial menjadi bagian dari dinamika usaha yang berkembang di lingkungan kota mandiri. Keberadaan pusat perniagaan ini sekaligus menggerakkan roda perekonomian lokal secara berkelanjutan.
Di sisi lain, pengembangan kawasan juga mencakup aspek lingkungan. Pada 2011, CitraRaya memperkenalkan EcoCulture sebagai inisiatif untuk mendorong gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika