Nasional

Tren Berhemat Ubah Pola Belanja Wisatawan

JAKARTA -- Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyoroti adanya tren menurunkan gaya hidup atau downgrading lifestyle saat ini menjadi salah satu penyebab terjadinya perubahan pada pola belanja wisatawan saat melakukan...

30 Oktober 2026, pukul 10:50 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA -- Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyoroti adanya tren menurunkan gaya hidup atau downgrading lifestyle saat ini menjadi salah satu penyebab terjadinya perubahan pada pola belanja wisatawan saat melakukan perjalanan. Fenomena ini dinilai berdampak langsung pada dinamika industri pariwisata nasional.

"Kalau kita bicara soal perilakunya ini juga kan orang mengatakan, oh Bali wisatawan domestiknya turun. Tapi kita lihat kemudian tadi ini berkaitan dengan perilaku juga," kata Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, Kamis (29/10/2026) lalu.

Baca Juga

Ni Luh menyampaikan perubahan perilaku tersebut terjadi karena masyarakat secara global mulai mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak esensial. Mereka kini lebih memprioritaskan kebutuhan yang bersifat esensial.

Meski demikian, wisatawan tetap bisa melakukan perjalanan wisata dengan biaya yang telah disesuaikan. Mereka akan memilih memangkas anggaran dan memilih alternatif pilihan yang dirasa lebih hemat. "Nonesensial termasuk berwisata itu kemudian mereka kurangi. Bukan tidak mereka lakukan, tetap mereka lakukan. Tetapi kemudian mereka pangkaslah budget-nya," ujarnya.

Ni Luh mencontohkan perubahan pilihan transportasi. Wisatawan yang sebelumnya menggunakan pesawat dapat beralih menggunakan kendaraan pribadi karena jaringan jalan tol telah terhubung, atau memilih kereta api.

Mengutip sebuah data dari PT KAI, dia menyampaikan jumlah masyarakat yang menggunakan kereta api juga mengalami peningkatan. Tren ini menjadi gambaran pergeseran moda transportasi pilihan masyarakat.

Kemudian, pergeseran pola belanja juga terlihat pada pilihan akomodasi. Wisatawan yang sebelumnya memilih hotel berbintang tertentu mulai beralih ke vila. "Jadi ini pergeseran konsumsinya. Jadi vila-vila itu bertumbuh banyak sekali," kata Ni Luh.

Menurut dia, vila menjadi pilihan karena menawarkan privasi dan dapat digunakan bersama keluarga. Pertumbuhan vila, kata dia, juga terlihat di Yogyakarta.

Sementara itu, konsumsi makanan dan minuman masih menunjukkan pertumbuhan. Ni Luh mengatakan data yang dikeluarkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan sektor tersebut masih tumbuh.

"Artinya untuk makan minum kalau di kita itu kan restoran, kafe, rumah makan itu masih tumbuh. Masih terjadi pertumbuhan," ujarnya.

Hal lain yang dia sampaikan yakni jumlah perjalanan wisatawan masih mengalami pertumbuhan. Ia menyebut perjalanan wisatawan domestik tumbuh di atas 4 persen, sedangkan wisatawan mancanegara tumbuh di atas 5 persen.

"Jadi kita melihat bahwa ada memang pergeseran. Pergeseran wisatawan dalam cara menggunakan uangnya. Tapi kalau dari jumlah perjalanan, kita lihat masih mengalami pertumbuhan," kata Ni Luh.

Loading... sumber : Antara
Lihat di situs asli

Berita terkait