Nasional

Trump Dilaporkan Setuju Jual Mesin Jet GE untuk KAAN, Turki

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump mengatakan di Gedung Putih pada Rabu (24/6/2026), ia "mungkin akan melakukan sesuatu" yang akan membuat Turki senang. Hal itu menandakan...

25 Juni 2026, pukul 04:29 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump mengatakan di Gedung Putih pada Rabu (24/6/2026), ia "mungkin akan melakukan sesuatu" yang akan membuat Turki senang. Hal itu menandakan potensi perubahan permintaan Ankara untuk jet tempur F-35 dan mesin jet yang dibutuhkan untuk program pesawat tempur KAAN buatan dalam negeri.

Kabar positif itu muncul menjelang KTT NATO 2026 di Ankara, Turki. Berbicara kepada wartawan saat bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Gedung Putih, Washington DC, Trump menunjuk pada keanggotaan Turki di NATO ketika ditanya apakah ia akan pergi ke Turki "dengan tas hadiah besar."

Baca Juga

"Lihat, dia anggota NATO. Beberapa orang tidak menganggap dirinya (sebagai anggota NATO), tetapi dia benar-benar anggota NATO. Dia anggota NATO yang kuat," kata Trump menjawab pertanyaan jurnalis dilaporkan Daily Sabah.

 "Ya, saya mungkin akan melakukan sesuatu yang akan membuatnya sangat senang," tambahnya. Turki sedang bersiap untuk menjadi tuan rumah para pemimpin NATO pada KTT di ibu kota Ankara pada tanggal 7-8 Juli 2026.

Rutte, di pihak lain, mengatakan, Turki memiliki basis industri pertahanan yang "besar". Trump menjawab: "Orang-orang tidak tahu seberapa besar Turki dalam hal militer. Sangat kuat. Mereka memiliki banyak peralatan kita, militer yang sangat kuat, karena beliau." 

Trump menambahkan, ia kemungkinan tidak akan menghadiri KTT tersebut jika tidak diselenggarakan di Turki oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan. "Saya pergi karena menghormati Presiden Erdogan," kata Trump.

Adapun mesin yang bakal dijual ke Turki, diproduksi oleh General Electric (GE) akan menggerakkan jet tempur KAAN, sebuah proyek besar Turki yang diluncurkan pada 2016. Hal itu sebagai bagian dari upaya Ankara, anggota NATO, untuk lebih mandiri dalam pertahanannya.

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait