JAKARTA — Perbincangan mengenai perbandingan biaya hidup di Indonesia dengan Korea Selatan (Korsel) ramai dibahas warganet di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Diskusi yang viral tersebut dinilai menjadi cerminan nyata dari keresahan masyarakat terhadap kemampuan daya belinya di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Warganet menyoroti perbedaan harga kebutuhan sehari-hari dengan tingkat pendapatan masyarakat di kedua negara. Perbincangan tersebut tidak hanya berkutat pada mahal atau murahnya suatu harga barang, tetapi juga pada seberapa besar porsi penghasilan yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Baca Juga- Kredit Perbankan Tumbuh, Mengapa UMKM dan daya beli Masih Tertahan?
- Jaga Daya Beli, Pemerintah Bakal Tebar Rp31,8 Triliun untuk Bansos dan Diskon Nataru
- Inflasi 3,28 Persen Belum Tekan Daya Beli
Fenomena komparasi tersebut mencuat melalui forum daring Theqoo dan beberapa akun Instagram, seperti kuykoreapedia. Dinarasikan di dalamnya tentang UMR kedua negara dan harga sejumlah barang. Disebutkan, UMR Korsel mencapai 2 juta won atau setara Rp 25 juta per bulan, dengan harga telur tercatat sebesar 5.790 won per tray atau sekira Rp 80 ribu. Sementara itu, UMR Indonesia yakni Rp 5 juta per bulan, dengan harga telur di Indonesia sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 83 ribu per tray.
Ada pula paparan mengenai persentase besaran pengeluaran dalam memenuhi kebutuhan pangan. Misalnya, harga beras di Korsel yakni 4.460 won atau sekira 0,21 persen terhadap UMR, sementara di Indonesia harga beras mencapai Rp 16 ribu per kg atau sekitar 0,46 persen terhadap UMR. Lalu, harga bahan bakar minyak (BBM) di Korsel yakni 2.010 won per liter atau 0,09 persen terhadap UMR, sedangkan di Indonesia harga BBM yakni Rp 16.250 per liter atau sekitar 0,46 persen terhadap UMR.
Ramainya diskusi perbandingan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kondisi daya beli masyarakat Indonesia. Sebab, harga barang secara nominal tidak selalu mencerminkan tingkat keterjangkauannya. Harga yang lebih tinggi di suatu negara belum tentu lebih membebani masyarakat apabila pendapatan yang diterima juga jauh lebih tinggi. Sebaliknya, barang dengan harga relatif murah dapat tetap terasa mahal jika menyerap porsi penghasilan yang signifikan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) bisa menjadi salah satu pijakan untuk melihat gambaran pengeluaran masyarakat. Mengutip data BPS Provinsi DKI Jakarta, rata-rata pengeluaran penduduk pada 2025 mencapai sekira Rp 2,96 juta per kapita per bulan. Dari angka tersebut, pengeluaran untuk makanan mencapai Rp 1,15 juta, dan pengeluaran untuk non-makanan sekitar Rp 1,81 juta.
Pada kelompok pengeluaran makanan, rata-rata pengeluaran untuk daging tercatat sekitar Rp 70.168 per kapita per bulan, atau kira-kira 2 kilogram (kg) daging ayam. Angka tersebut mencakup kelompok daging secara keseluruhan, bukan hanya daging ayam. Data tersebut bisa menjadi pintu masuk untuk mengkaji kondisi masyarakat mengalokasikan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika