WASHINGTON — Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mempercepat penemuan kerentanan perangkat lunak dan meningkatkan risiko gangguan pada layanan internet. Kondisi ini dinilai memicu ancaman serius bagi infrastruktur digital global. Tujuh pakar keamanan siber yang diwawancarai Reuters memperingatkan, keadaan tersebut berpotensi memicu lebih banyak gangguan seperti yang melanda sejumlah situs pemerintah di berbagai negara pada pekan ini.
Riset perusahaan intelijen ancaman siber VulnCheck yang berbasis di Massachusetts menunjukkan, jumlah celah keamanan digital yang ditemukan meningkat dua kali lipat secara tahunan. Riset tersebut dijadwalkan dipublikasikan dalam beberapa hari mendatang.
Baca Juga- Kredit Tumbuh Lebih Cepat dari DPK, BI Longgarkan Likuiditas Perbankan
- Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Jabar, 10 Tokoh Raih Penghargaan Tokoh Inspiratif
- Pasar Baru, Glodok Pecinan, dan Kota Tua Bakal Dijadikan Kawasan Ekonomi Kreatif
CEO Cloudflare Matthew Prince mengatakan, ia mengetahui adanya sejumlah kerentanan serius lain pada perangkat lunak penting. Menurut dia, kemampuan AI menemukan kelemahan yang selama ini tersembunyi dapat membuat industri keamanan siber menghadapi periode yang sibuk dalam beberapa bulan mendatang.
“Saya pikir kita akan menghadapi beberapa tahun ketika setiap pekan akan terasa seperti langit akan runtuh,” kata Prince dalam wawancara pada Kamis (23/10), seperti dikutip Reuters, Jumat (24/10).
Gangguan yang meluas ke situs pemerintah di Eropa dan sejumlah wilayah lain sejak Rabu terjadi setelah ditemukan kelemahan pada PHP, bahasa pemrograman yang digunakan secara luas di internet. Operator sistem bergegas memperbaiki perangkat lunak mereka untuk mengantisipasi eksploitasi massal. Sebagian pengelola bahkan memilih menonaktifkan situs sementara karena khawatir tidak sempat memasang perbaikan sebelum peretas memanfaatkan celah tersebut.
Peneliti VulnCheck Patrick Garrity mengatakan, upaya memperbaiki kerentanan PHP terjadi di tengah pekan yang sudah padat dengan berbagai persoalan keamanan siber.
Pada pekan yang sama, sejumlah kerentanan juga diungkap pada Node.js, alternatif PHP, dan Plex, perangkat lunak untuk layanan streaming. Selain itu, terjadi insiden keamanan yang berkaitan dengan LiteLLM, gerbang AI, dan Railway, platform pengembangan perangkat lunak. Otoritas sertifikat digital India, eMudhra, juga diketahui menggunakan kunci kriptografi yang sangat lemah sehingga membahayakan pengguna internet.
“Jika kita melihat empat atau lima hal seperti ini dalam satu pekan, saya memperkirakan akan ada lebih banyak lagi,” ujar Garrity. “Saya pikir akan ada lebih banyak situasi darurat untuk segala sesuatu yang terhubung ke internet.”
AI Pangkas Waktu Penemuan dan Eksploitasi Celah
Basis kode yang menopang perangkat lunak modern sangat luas. Kesalahan pemrograman atau bug yang membuka peluang eksploitasi dapat muncul di bagian yang tidak terduga.
Sebelum perkembangan AI, pencarian celah keamanan membutuhkan keterampilan tertentu. Pembuatan exploit atau perangkat untuk memanfaatkan celah tersebut juga dapat memerlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan bagi tenaga profesional berpengalaman.
Rentang waktu itu memberi pengelola sistem kesempatan untuk memperbaiki kerentanan dan menerapkan pembaruan perangkat lunak secara bertahap.
Namun, AI mengubah kondisi tersebut. Model AI dapat memeriksa basis kode secara terus-menerus untuk menemukan berbagai kerentanan, sekaligus membantu menyusun exploit dalam hitungan jam.
Chief Technology Officer RunSafe Security, Shane Fry, mengatakan, kemampuan model AI yang ditunjukkan dalam beberapa bulan terakhir telah memperjelas perubahan yang terjadi di industri keamanan siber.
“Hal yang secara mendasar dan tidak terbantahkan berubah adalah skala waktu, bukan hanya untuk menemukan kerentanan, tetapi juga seberapa cepat pihak lawan dapat mempersenjatai kerentanan tersebut,” kata Fry.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : REUTERS