REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Para analis Israel mengkritik keras Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan menyebutnya sebagai "pembohong" dan penuh kegagalan. Analis menilai Presiden AS Donald Trump telah mempermalukan Netanyahu dengan mengecualikannya dari kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang.. Demikian dilaporkan kantor berita Turki Anadolu dilansir Middle East Monitor.
Netanyahu mengakui bahwa ia tidak mengetahui detail nota kesepahaman yang dicapai antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Baca Juga- PBB: Israel Bunuh Hampir 1.000 Warga Palestina Sejak Oktober 2025
- Iran Tegaskan Israel Ikut Terikat Kesepakatan Perdamaian dengan AS
- Donald Trump: Tanpa AS, tidak akan Ada Israel!
Netanyahu mengklaim telah menyelamatkan warga Israel dari ancaman nuklir dengan melancarkan perang melawan Iran. Ia mengakui perbedaan pendapat dengan Trump.
Kolumnis Haaretz, Yossi Verter, melancarkan serangan pedas terhadap Netanyahu dalam sebuah artikel berjudul, "Tanpa rasa malu, arsitek kegagalan (Netanyahu) mengeklaim bahwa ia menyelamatkan Israel dari kematian kolektif. Itu adalah kebohongan lain di antara banyak kebohongan lainnya."
"Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berada di puncak apa yang oleh setiap ahli didefinisikan sebagai kegagalan strategis bagi Negara Israel dan yang dapat ia katakan kepada warganya hanyalah: 'Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, selama saya menjadi perdana menteri'," tulisnya.
Netanyahu telah mengatakan klaim itu selama 30 tahun. Namun di saat yang bersamaan, pada konferensi persnya Senin, Netanyahu mengeklaim Israel hampir saja menghadapi kehancuran massal.
Lihat postingan ini di Instagram
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika